Skandal di Rumah Lisa PART 4

“Iya nih pak, di sini ada colokan listrik nggak yah? Saya mau charge HP.”

Lalu salah seorang pemuda, yang kelihatannya tukang asongan, menyahut:

“Ada non. Nih di sini ada colokan listrik.” pemuda yang usianya sekitar 26 thn yang berkaos kucel dan celana panjang jeans kumel itu, menunjuk pada sebuah stopkontak di dinding ruangan itu.

Satpam itu menyahut pula: “Iya non, silahkan colok di situ aja. Mari masuk aja. Nanti kalau sudah full, bapak anter ke dalam.”

“Ah nggak apa-apa pak. HPnya dicharge di sini aja yah?” Lisa dengan langkah sopan masuk ke ruangan satpam yang berukuran 4×5 m itu dan mulai mencharge HPnya.

“Wah seru yah bolanya?” Lisa mulai berdialog dengan mereka, supaya suasananya cair. “Iya nih, masih nol-nol. Mari non duduk ikut nonton.” seorang bapak yang mengenakan seragam parkir mempersilahkan Lisa duduk di bangku panjang yang di sebelahnya sudah ada seorang pemuda yang menggeser gitarnya.

Kelihatannya pemuda itu berprofesi sebagai pengamen.

“Iya pak terima kasih. Saya duduk di sini yah. Sambil tunggu baterenya penuh.”

Sejak Lisa masuk dan duduk, kelihatan sekali mata kelima lelaki itu lebih tertuju pada Lisa yang kelihatan seksi dan menggairahkan. Mereka memperhatikan sepasang pahanya yang indah itu, juga pundaknya yang meskipun ditutupi selendang tipis, tetap saja memperlihatkan keindahannya. Di dalam ruangan itu, juga kedengaran ungkapan-ungkapan kasar dari mereka mengomentari pertandingan final itu.

“Upssh maaf yah non, kata-kata kami kasar. Hehehe” kata satpam itu.

“Ahh nggak apa-apa koq, pak!” kata Lisa.

Lalu satu bapak lagi yang kelihatannya sebagai supir menyahut: “Iya nih, ada cewek cakep koq ngomong kasar sih!”

Lalu pengamen itu menimpali dengan ungkapan agak porno dan setengah becanda: “Yang halus kan biasanya suka yang kasar. Hehehehe. Apalagi non ini mulus banget. Hehehehe.”

“Aduh jangan begitu, Dul. Nanti non ini ketakutan” satpam itu mengingatkan si Duldul, pengamen jalanan itu.

“Oh yah non, nama saya Rojak, satpam di sini. Itu yang tadi godain non, namanya Duldul, pengamen yang paling jelek sedunia. Yang itu Sardil, tukang parkir di sini. Itu mang Ucek, tukang rokok keliling. Dan ini, Pak Midit, supir yang lagi nganterin majikannya nonton final” Pak Rojak memperkenalkan para lelaki yang ada di tempat itu.

“Saya Lisa pak” sahut Lisa memperkenalkan diri.

“Wah masih segar nih, non Lisa. Cantik, putih, mulus lagi. Hehehe.” Duldul kembali menggoda Lisa.

“Sini aku jewer kupingmu” Pak Rojak kemudian menjewer telinga Duldul.

“Aduh sakit!” Duldul berusaha menghindar dari jeweran bp Rojak, sehingga merundukkan kepalanya ke arah lantai. “woow. Mulus baget” rupanya Duldul sempat melihat paha mulus Lisa yang terbuka karena pakaian terusan yang dikenakan Lisa begitu pendek, bahkan celana dalam Lisa sempat diliriknya.

“Aah bang Duldul nakal nih. Dijitak aja pak” Lisa meminta bp Rojak menjitak Duldul.

“Ampun pak Rojak…tuh pahanya muluskan?” Duldul menunjuk pada paha Lisa yang terbuka indah. “Ampun non…hehehe” Duldul dengan bercanda memohon kepada Lisa.

Tetapi matanya terus terarah ke paha Lisa yang terbuka itu.

“Ihh nakal nih” Lisa sengaja menampilkan wajah cemberutnya dan membetulkan posisi duduknya.

Pak Sardil kemudian menyahut: “Nggak takut masuk angin, non. Pakai baju seperti ini?”

“Iya nih, pak. Kepala terasa pening juga. Pundak rasanya pegel. Masuk angin kali yah!” ungkap Lisa.

“Kalo masuk angin, mesti dipijit tuh, biar anginnya keluar” kata Pak Midit.

Mang Ucek ikut menimpali: “Biasanya si Duldul yang sering pijitin kita di sini. Ayo Dul, pijitin si non!”

“Bener nih? bang Duldul. Pijitin dong” ujar Lisa yang sudah mulai berani.

“Ok non, sini saya pijitin deh.”

Lisa kemudian menggeser duduknya dan membuka selendangnya, sehingga pundaknya yang putih mulus terpampang bebas di hadapan Duldul.

“Wah, mulus banget nih. Saya pijit yah.”

“Iya bang, pijitin yah” Lisa mempersilahkan Duldul memijatnya.

Bergetar perasaan Lisa ketika telapak tangan yang kasar Duldul, si pengamen jalanan itu, mulai mengelus dan meraba pundaknya yang terbuka itu. Duldul mulai memijati pundak dan lehernya yang indah itu.

“Yang lain jangan ngiri yah. Disuruh mijit semalaman juga mau, kalau yang dipijit non ini” Duldul menggoda ke empat lelaki lainnya.

“Wah kalo gitu, saya juga mau pijitin si non ah.”

“Saya juga.” Keempat orang itu serentak berebut mau memijati Lisa yang cantik dan sexy itu.

“Kalo gitu pijitnya di bawah aja. Nih saya gelar tiker. Mari non, kami pijitin” Pak Rojak tiba-tiba menggelar tiker di dalam ruangan itu, kemudian merapatkan kain penutup jendela itu.

Melihat hasrat keempat lelaki lain yang mau memijatinya, akhirnya Lisa mempersilahkan mereka memijati dirinya dengan senyum menggoda. Lalu ia membaringkan tubuhnya tengkurap di tikar itu, dan dengan seketika tubuh seksinya mulai dikerubungi oleh kelima lelaki itu. Perhatian mereka tidak lagi ke pertandingan seru di layar tv, tetapi ke tubuh Lisa yang sudah tengkurap. Duldul memijati lengan kiri sampai ke pundaknya. Pak Rojak juga melakukan hal yang sama di lengan kiri Lisa dan pundaknya. Pak Sardil memijati betis kiri sampai ke pahanya. Mang Ucek memijati betis sebelah kanan, terus ke paha indah itu. Sedangkan Pak Midit memijati punggungnya yang masih tertutup pakaian. Pria itu protes karena tidak bisa langsung memijati langsung kulit mulus Lisa seperti temannya yang lain.

Akhirnya Duldul yang paling berani itu dengan nekad menganjurkan Lisa untuk melepas pakaiannya, supaya mudah dipijati. Keempat lelaki yang lain juga menyetujui hal itu. Awalnya Lisa menolak, tetapi, perlahan-lahan Lisa mau mengikuti permintaan mereka. Apalagi ketika ia terangsang berat mengingat teman-temannya tadi siang melakukan pesta seks dengan satpam dan para penjual di depan sekolah. Akhirnya muncul hasrat liar Lisa untuk merasakan bagaimana nikmatnya di gangbang oleh kelima lelaki kasar itu.

“Oke siapa takut?” kemudian Lisa berdiri dan perlahan-lahan dibukanya pakaian yang melekat ditubuhnya.

Kelima lelaki itu begitu kagum menatap wajah Lisa yang begitu putih, bersih dan indah itu. Karena Lisa tidak lagi mengenakan bh, maka ketika pakaian itu dilepaskan dari tubuhnya, terpampanglah sepasang payudara yang indah itu. Dengan sedikit malu, Lisa menutupi puting payudaranya, dan ia kembali rebahan untuk dipijati oleh mereka dengan hanya mengenakan celana dalam yang mini. Dengan penuh nafsu, mereka memijati tubuh telanjang Lisa, tampak jari-jari tangan mereka begitu liar mengelus dan meremasnya. Mang Ucek yang mendapat jatah memijat betis dan paha Lisa tiba-tiba tanpa ijin dari Lisa, menarik lepas cd yang dikenakan gadis itu:

“Celana dalamnya, saya lepas yah non.”

Akhirnya terlepaslah pakaian terakhir yang tersisa itu sehingga membuat para pemijat itu tambah nafsu.

“Ah. Malu nih, masa Lisa jadi bugil begini” Lisa memprotes tindakan mang Ucek itu malu-malu kucing.

Tetapi mereka tidak menggubris protes Lisa, bahkan mereka memuji tubuh bugil Lisa yang begitu mulus, putih dan bersih itu dan terus memijatnya.

“Ayo non, sekarang bagian depan yang dipijat. Masa yang belakang terus” Pak Sardil meminta Lisa untuk berbalik.

“Iya non, ayo balik” ungkap mereka juga.

Akhirnya dengan agak malu-malu, Lisa membalikkan tubuh bugilnya sambil menutupi sepasang payudaranya dengan lengan kiri dan menutupi bulu kemaluan dan vaginanya dengan telapak tangan kanannya. Betapa merah muka Lisa, karena dia nekad bugil di hadapan kelima lelaki kasar yang tidak pernah dikenalnya.

“Sudah non, tubuh indah begini jangan ditutupi dong” kata Pak Midit sambil mengangkat tangan kiri Lisa, sehingga payudara dengan puting yang indah  itu terpampang bebas.

Lalu Pak Rojak menarik lengan kanan Lisa yang menutupi kemaluannya itu. Kedua tangan Lisa ditarik ke arah kepala Lisa oleh mang Ucek, sehingga tubuh bugil Lisa yang begitu putih mulus itu terbuka di hadapan mereka. Mereka melotot dan ngiler mengagumi payudara Lisa yang ranum dan montok itu dan vagina yang dihiasi bulu kemaluan yang lebat itu.

“Gila, cantik dan seksi sekali nih amoy. Bisa pesta deh kita!!” kata si Duldul.

“Jangan ah. Jangan. Lisa malu” kata Lisa malu-malu.

“Kenapa malu non?” kata Pak Rojak kepada Lisa.

Tampak tangan-tangan yang kasar dan hitam itu mulai meremasi payudara dan mengelus perut dan bulu kemaluan gadis itu.

“Eggghh… Habis pada curang. Masa cuma Lisa yang bugil” tantang Lisa yang menghendaki agar mereka juga telanjang.

Mendengar ungkapan Lisa, dengan segera Duldul, Ucek dan Pak Sardil melepas kaosnya, sedangkan Pak Rojak dan Pak Midit melepas celana panjangnya. Setelah itu dengan segara, mereka menyerbu tubuh mulus Lisa yang bugil itu. Mereka tidak memijati Lisa, tetapi menggerayangi tubuh mulus itu. Pak Rojak langsung menciumi payudara Lisa sebelah kiri sambil mengemut putingnya. Hal yang sama dilakukan oleh Ucek pada payudara sebelah kanannya. Pak Midit langsung membuka paha Lisa dan menciumi vagina Lisa. Pak Sardil mengelusi perut langsing dan bening itu serta menjambak bulu kemaluan Lisa. Duldul langsung mendaratkan mulutnya ke mulut Lisa dan menciuminya penuh nafsu. Perbuatan mereka membuat Lisa kaget sekaligus terkejut, dan mampu membuatnya mendesah-desah penuh nikmat. Tubuh Lisa tampak menggelinjang penuh nikmat karena dikerjai oleh kelima lelaki kasar itu. Puas menciumi bibir dan mulut Lisa, Duldul melepaskan celana dan cdnya hingga bugil, lalu mengangkangi tubuh Lisa dan mengarahkan penisnya yang hitam, besar dan panjang itu ke bibir kemaluan Lisa. Pak Midit berganti posisi, setelah dia membuka cdnya, diarahkannya penisnya yang besar dan panjang itu ke mulut Lisa untuk disepong.

“Saya entot dulu yah” Duldul langsung memasukkan penisnya dan dengan kencang dimasukkannya ke dalam liang vagina Lisa.

Kemudian dengan penuh nafsu, Duldul mulai mengenjot vagina Lisa.

“Eeggghhhh…” Lisa mulai mengerang tetapi agak tersendat karena mulutnya terisi penuh oleh penis Pak Midit.

Pak Sardil sedang asyik mengisap puting payudara kanan Lisa, sedangkan Pak Rojak masih asyik menyusu di puting payudara sebelah kiri. Mang Ucek lalu menarik tangan Lisa dan memintanya untuk mengocok penisnya. Malam ini, menjadi malam yang penuh kenangan karena baru kali ini dia dikerubuti oleh lima lelaki yang sama sekali belum dikenalnya dan dari kalangan bawah. Mereka lalu mengajak Lisa mengganti posisi. Mang Ucek rebahan di atas tikar itu dengan penis yang mengacung ke atas. Lisa yang berada di atas, mengarahkan penis itu ke dalam kemaluannya.

“Eeggghhh” terdengar kembali erangan Lisa ketika penis Ucek yang tidak kalah besar itu masuk ke liang senggama Lisa.

Sambil terus di pompa oleh Ucek, Pak Rojak memasukkan penisnya ke dalam mulut Lisa. Sementara Midit terus menciumi dan menyedoti payudara Lisa sebelah kanan dengan begitu rakusnya. Duldul terus memberi cupangan di sekitar payudara kiri Lisa. Pak Sardil menuju pantat Lisa yang sekal itu lalu diciuminya penuh nafsu. Tidak cukup sampai disitu, lalu Pak Sardil mengarahkan penisnya ke lubang anus Lisa, dan masuklah perlahan-lahan penis itu mendobrak anus Lisa yang masih perawan itu.

“Eeeggghhh… Aaggsshhh…” kembali Lisa mengerang penuh nikmat, dan sudah dua kali ia mencapai klimaksnya.

“Ooggh enak sekali memek non Lisa” ungkap Ucek.

“Iya, boolnya juga sempit. Egghhh” ungkap Pak Sardil juga.

Lisa kelihatan meringis agak perih karena lubang anusnya dimasukki oleh penis yang besar itu. Tetapi lama-lama akhirnya ia menikmati sodomi itu. Beberapa lama kemudian mereka berganti posisi lagi. Kini Pak Sardil yang rebahan dan mengarahkan penisnya yang paling hitam di antara mereka ke liang vagina Lisa. Perlahan-lahan penis itu membelah vagina Lisa.

“Egghhsss aauuhh” kembali Lisa mengerang penuh nikmat ketika vaginanya diterobos dan dipompa oleh penis hitam itu.

Lalu Pak Rojak mengarahkan penisnya yang juga besar itu ke arah lubang anus Lisa dan didorongnya dengan kasar, membuat Lisa menjerit.

“Aaaahhhggghhh”

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Mang Ucek mengarahkan batang penisnya ke mulut Lisa untuk disepong. Sedangkan Duldul dan Pak Midit asyik menciumi, menyedot dan menyupangi sepasang payudara Lisa dan sekujur tubuhnya sehingga tampak merah-merah bekas cupangan pada payudara dan sebagian perut Lisa yang mulus itu. Akhirnya setelah satu jam lebih mereka menyetubuhi Lisa secara beramai-ramai, tibalah saatnya untuk menyemprot sperma mereka. Kembali mereka merebahkan Lisa di tikar, Duldul dan Pak Midit mengocok batang penisnya ke arah muka Lisa. Sedangkan Pak Rojak, Pak Sardil dan Ucek mengocoknya ke arah payudara Lisa. Dan tidak lama kemudian. Crooottt…ccrroott…ccrrooot.

“Eeggghhh…ooohhh”

Berkali-kali sperma kelima lelaki yang kental dan banyak itu menyemprot dan tumpah di wajah dan payudara Lisa. Lisa sendiri sudah mengalami 6x orgasme pada saat itu. Pagi dini hari itu, Lisa menikmati mandi sperma. Nikmat sekali kelima lelaki itu karena bisa menikmati Lisa yang cantik, putih, bening dan seksi itu. Sedangkan Lisa, juga tampak begitu nikmat dalam birahinya, karena bisa menikmati 5 penis yang besar, panjang dan keras. Kemudian mereka mengelusi muka dan sepasang payudara Lisa dengan sperma mereka. Mereka nampak lemas sekali karena tenggelam dalam nafsu birahi yang baru saja mereka tuntaskan. Tak terasa sekitar 12 menit lagi pertandingan final itu hampir selesai, dengan kedudukan 1-0 untuk Spanyol. Maka Lisa buru-buru berdiri dan membersihkan mukanya yang lengket oleh sperma di wastafel yang butut itu, lalu mengenakan pakaiannya. Ketika Lisa akan memungut cdnya, tiba-tiba Duldul mengambil cd itu dan mengantonginya sebagai kenang-kenangan.

“Buat saya aja yah non. Kapan-kapan kita ngewe lagi yuk?” goda Duldul ke Lisa.

“Iya deh ambil saja” Lisa tersenyum pada mereka dan dengan langkah gontai meninggalkan ruangan itu setelah mengambil HP dan alat chargernya.

Di dalam Lisa menemui Hans yang tampak asyik menonton sepak bola. Ia nampaknya larut dalam euphoria sepak bola sampai tidak peduli pacarnya lama meninggalkannya dan sedang digangbang orang lain. Tak lama kemudian pertandingan itu usai, dan Spanyol yang keluar sebagai juara dunia. Lalu Hans dan Lisa bergandengan tangan meninggalkan caffe itu dan berjalan menuju mobil Hans untuk pulang. Ketika sudah sampai di dalam mobil, Hans mengajak Lisa untuk bercinta sejenak, tetapi Lisa menolaknya dengan alasan sudah ngantuk sekali. Lisa nggak berani melakukan hubungan seks dengan Hans saat itu, karena badannya masih lengket dengan sperma dan tidak mengenakan cd. Lisa khawatir Hans curiga padanya, tetapi sebagai gantinya Lisa bersedia melakukan oral seks terhadapnaya. Maka Lisa membuka restleting celana Hans, mengeluarkan penisnya dan menyepongnya. Untungnya hanya sekitar 10 menitan Hans sudah mencapai orgasmenya dan Lisa menelan sperma Hans kemudian hans pun menstarter mobilnya meninggalkan tempat parkir. Di pintu gerbang itu Lisa berjumpa dengan pak satpam, tukang parkir dan dua orang tukang yang tadi sudah menyetubuhinya. Mereka tampak tersenyum kepada Lisa dan Lisa pun tersenyum pada mereka

“Siapa tuh? Senyum-senyum ke lu gitu?” tanya Hans.

“Itu…gua kan tadi nge-charge hp di pos satpam pas mereka juga di sana gitu” jawab Lisa

“Ooohh…gitu” Hans menanggapinya santai dan menyetir mobilnya

-TAMAT-

CERITA POPULER