Wednesday, May 25, 2011

Skandal di Rumah Lisa PART 3

Akhirnya muncul niat liar dari dalam dirinya, ia ingin sekali merasakan pesta sex liar itu, di mana dirinya dikerubungi oleh beberapa lelaki kasar bertubuh kekar dan berpenis besar silih bergantian menyetubuhinya dengan penuh nafsu. Tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar, ia menarik nafas lega karena untungnya ponsel itu hanya diaktifkan vibrate mode, kalau ringtonenya juga aktif tentu sudah terdengar oleh mereka yang di dalam sana. Penelepon itu tidak lain Cathy yang telah tiba di depan sekolah. Setelah dirasa sudah cukup menyaksikan kegilaan pesta birahi itu, Lisa bergegas meninggalkan tempat itu menuju mobilnya. Seperti yang telah diduga, ketika Lisa sudah sampai di depan tempat parkir, dia melihat Cathy yang juga baru tiba. Lisa kemudian menemui Cathy dan menyerahkan baju yang agak kekecilan itu dan Cathy menyerahkan kepada Lisa baju yang lebih besar. Mereka berbincang sejenak dan akhirnya pergi dengan mobilnya masing-masing. Siang ini Lisa mau mengunjungi Hans di rumahnya dan mereka sudah janjian mau makan bakso di sekitar perumahan di mana Hans tinggal di daerah Pondok Indah. Syukurlah siang ini perjalanan menuju rumah Hans tidak begitu macet. Biarpun demikian, Lisa merasa lelah juga karena nyetir sendiri ditambah lagi dengan aktivitas seks yang dia lakukan bersama bang Said di rumahnya. Lisa berharap Hans sudah pulang dari kuliahnya, sehingga dia bisa nyantai sambil tiduran di kamar tidur Hans. Orang tua Hans sangat sayang kepada Lisa, selain karena kecantikannya juga karena Lisa anak seorang kaya yang selevel tingkat ekonomi dan sosialnya. Bahkan, untuk mempersiapkan masa depan Hans dan Lisa bila sudah berkeluarga kelak, orang tua Hans sudah memberikan hadiah sebuah rumah mewah untuk mereka tempati berdua di daerah permahan elit Kelapa Gading. Hans adalah putra bungsu dari 3 bersaudara. Kakaknya yang pertama bernama Felly, berusia 29 tahun, sudah berkeluarga, punya 3 anak dan tinggal di Australia, karena ikut suaminya yang mendapat pekerjaan sebagai peneliti ahli sebuah bank. Kakaknya yang kedua bernama Anton, berusia 27 tahun, baru sekitar 2 tahun lalu menikah, sudah punya 1 anak, dan kini tinggal di Singapore. Anton bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit ternama di Singapore. Dan anak ketiga adalah Hans yang berusia 24 tahun, mahasiswa kedokteran tingkat akhir di sebuah universitas terkenal di Jakarta Barat. Boleh dibilang, keluarga Hans adalah keluarga yang sukses dan mapan. Sesampainya di rumah Hans, Lisa disambut oleh seorang pesuruh rumah Hans, yakni Pak Kobar yang berusia 51 tahun. Rumah itu begitu sepi, karena papanya Hans masih di bekerja di pabrik percetakan miliknya sendiri, sedangkan ibunya sedang jalan-jalan ke mall dengan teman-temannya. Hans sendiri belum pulang, karena mendadak diminta menggantikan dosen yang berhalangan masuk untuk memberi kuliah parasitologi di fakultas kedokteran tempatnya kuliah. Hans adalah anak yang cerdas, karena itu dia dipercaya menjadi asisten dosen dan kerapkali menggantikan dosen yang berhalangan hadir.

Sambil menunggu kepulangan Hans, Lisa menyetel tv yang terletak di ruang keluarga itu lalu duduk santai. Dengan remote tv yang dipegangnya, Lisa mencari-cari saluran yang menarik dan enak ditonton. Akhirnya, dia menemukan saluran yang disenanginya, yakni chanel musik. Sambil duduk santai, Lisa menonton acara kesukaannya. Karena suasananya santai, lama kelamaan Lisa merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di sofa empuk itu. Saat itu, Pak Kobar yang kebetulan mau membereskan, menyapu dan mengepel di ruangan itu agak terkejut juga menyaksikan Lisa yang tertidur santai. Pria setengah baya itu tertegun melihat posisi tidur Lisa yang begitu seksi. Rok mininya tersingkap ke atas sehingga sepasang pahanya yang montok, mulus dan putih itu terpampang bebas, bahkan celana dalam yang berwarna kuning muda itu dapat dilihat dengan jelas oleh bp Kobar. Kaosnya yang agak pendek tersingkap dan memperlihatkan sebagian perut Lisa dan pusarnya yang seksi dan menggemaskan itu. Karena situasi rumah yang sepi, dan melihat pemandangan yang begitu seksi itu, timbullah niat liar Pak Kobar untuk menikmati tubuh Lisa yang indah dan menantang. Perlahan-lahan ia mendekati Lisa dan dipandanginya paha mulus yang bening itu. Samar-samar Pak Kobar bisa melihat bayangan bulu kemaluan Lisa yang menerawang dibalik cdnya yang tipis itu. Mula-mula dielusnya betis yang mulus itu, kemudian perlahan naik sampai ke pahanya dan dengan lembut diremasnya paha yang mulus itu. Betapa halusnya betis dan paha itu, sehingga membuatnya semakin bernafsu untuk terus merabanya sampai ke selangkangannya. Tidak puas hanya meraba paha Lisa yang mulus itu, Pak Kobar lalu dengan lengan kirinya mengelus perut Lisa yang langsing, mulus dan putih bening itu. Kini lengan pria itu sampai ke tempat yang paling rahasia milik Lisa, tangan kanannya mulai masuk menyelusuri selangkangan Lisa dan mulai menyingkap celana dalamnya, lalu jari-jarinya menyentuh bibir kemaluan Lisa. Sedangkan telapak tangan kirinya terus merambat dan masuk ke dalam bh, dielusnya payudara Lisa yang masih terbungkus bh dan mengelus putingnya. Tiba-tiba Lisa tersadar dari tidurnya.

“Aaahh…Pak Kobar… Apa-apaan ini? Jangan kurang ajar yah! Sana pergi!” Lisa kaget dan menghardik bp Kobar, tetapi pria itu sama sekali tidak digubrisnya hardikan Lisa, bahkan ia menindih tubuh Lisa dengan tubuhnya yang kekar, jarinya sengaja di masukkannya ke dalam kemaluan Lisa lalu dirogohnya vagina itu, sedang tangan yang satu lagi meremas dengan keras payudara gadis itu.

“Eggghhh. Jangan pak Kobar. Kurang ajar! Nanti saya laporkan ke majikan kamu!”

Mendengar ancaman itu, Pak Kobar malah balik mengancam: “Silahkan dilaporkan ke tuan dan nyonya, laporkan saja! Bapak juga akan melaporkan non Lisa yang kalau ke sini sering ngentot ama tuan Hans. Saya juga akan laporkan hal ini ke orang tua non.”

Rupanya Pak Kobar tahu persis dan sering mengintip Lisa dan Hans saat sedang bersetubuh di kamar Hans, apalagi bila situasi rumah sedang sepi. Kata-kata Pak Kobar membuat Lisa terkejut dan gentar juga, bila ia benar-benar melaporkan itu semua ke orang tua mereka masing-masing tentu orang tua mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius akan terkejut mendengar hal itu dan akibatnya, Lisa dan Hans bisa dikucilkan oleh keluarga mereka.

“Bapak akan tutup mulut, kalau non Lisa mau memberi jatah ke saya.”

“Aduh, kaya gini dong Pak” tolak Lisa sambil menepis rabaan liar dari tangan Pak Kobar.

Tetapi, pria itu terus melakukan aksi nekadnya dengan memasukkan jari tengahnya makin dalam dan menyentuh klitoris di dalam vagina Lisa. Sedangkan payudara Lisa juga diremas dengan liar dan putingnya dijepit dengan jari jemari Pak Kobar. Apalagi pria itu mulai mendekatkan bibirnya yang dower itu ke bibir Lisa yang mungil dan memaksa untuk mencium bibir Lisa.

“Egghh jangan Pak! Jangan…” Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghindari ciuman pria itu, namun Pak Kobar mengetahui, bahwa Lisa juga menikmati perlakuan liar itu dari vaginanya yang mulai semakin becek dan puting payudaranya mulai mengeras.

Awalnya Lisa menolak bibir Pak Kobar yang tertuju ke bibirnya, tetapi karena terus didesak, perlahan-lahan ia tidak bisa menolak paksaan itu. Beberapa kali bibir Pak Kobar tidak bisa mendarat dengan sempurna ke bibir Lisa, tetapi akhirnya karena terus dipaksa, bibir itu bisa menyentuh bibir Lisa. Mula-mula ciuman itu biasa saja, tetapi karena terus didesak dan ditambah lagi dengan rangsangan dari rabaan liar di bagian sensitif tubuhnya, akhirnya Lisa pasrah dan menerima ciuman liar itu.

“Eeeuuugghh Pak… Ahh!!” Lisa mulai mendesah.

“Kenapa non? Nafsu yah?” Pak Kobar menggoda Lisa yang mulai pasrah atas pelecehan yang dilakukannya.

Bahkan Lisa sudah berani menerima dan membalas ciuman Pak Kobar sehingga mulut mereka sudah berpagutan dengan mesra dan lidah mereka kini saling berpautan erat. Lisa pun tampak pasrah, ketika Pak Kobar melolosi kaos yang dikenakannya, bahkan ketika meraih kaitan bh di bagian punggungnya, Lisa mengangkat sedikit tubuhnya supaya pria itu bisa membuka bhnya. Mata Pak Kobar begitu takjub memandang payudara Lisa yang terpampang bebas itu. Lalu tiba-tiba, diciumnya dan dijilati dengan penuh nafsu puting payudara yang montok itu. Bahkan, Lisa melenguh penuh nafsu ketika mulut Bp Kobar menyedot dan menggigit liar dan penuh nafsu puting payudaranya

“Eeessshhh… Ooougghh paakkk Koobbaarr. Eeehhhsss…”

“Enak yah non?” pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan malu tapi mau oleh Lisa.

“Hehehe, tenang aja non. Bapak jago koq dalam hal ngentot mengentot. Non Felly saja ketagihan sama genjotan kontol bapak. Wah sudah nggak kehitung deh berapa kali bapak ngentot dengan non Felly. Bahkan hehehe…anaknya yang ketiga mirip saya kan. Hehehe.”

Betapa kagetnya Lisa mendengar pengakuan Pak Kobar, ternyata ci Felly, kakaknya Hans, terlibat skandal juga dengan Pak Kobar sampai punya anak segala. Pantas saja anak yang ketiga itu beda dengan ayahnya, apalagi bibir anak itu juga agak dower seperti bibir Pak Kobar. Tindakan Pak Kobar sudah semakin liar, dia sudah merenggut dan melepas cd Lisa dan membukanya pahanya lebar-lebar sehingga vaginanya terbuka jelas. Betapa nafsunya Pak Kobar melihat vagina Lisa yang mungil itu dan diciuminya dengan penuh nafsu. Hal itu membuat Lisa tambah mengerang penuh geli dan nikmat. Puas menciumi vagina itu, pria itu membuka celananya dan sekaligus melepaskan celana dalamnya, sehingga batang penisnya yang sudah sangat tegang dan keras itu mengacung besar dan panjang. Disingkapnya rok itu lebih ke atas, agar lubang vagina Lisa semakin terbuka dan tidak terhalang oleh rok mini itu. Kemudian diarahkannya penis besar yang berurat itu ke lubang vagina Lisa. Perlahan-lahan penis yang besar itu mulai menerobos masuk ke liang vagina Lisa. Dan…

“Egghhhh peellaann…pellaann pak…aaagghh.” demikian erangan Lisa ketika vaginanya dijejali oleh penis itu. “Oogghhh…” Lisa mengerang makin kencang ketika penis itu masuk sepenuhnya ke dalam liang vaginanyaa.

“Eegghh. Memek non Lisa masih rapet dan seret, lebih enak daripada memek non Felly…eessshhh.” ceracau Pak Kobar sambil mulai menggerakkan penisnya

Lisa berpikir dalam hati, dengan kelihaian Pak Kobar memainkan nafsu wanita dan penisnya yang perkasa itu pasti ci Felly merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian dengan penuh nafsu, Pak Kobar menyodok vagina Lisa dengan penisnya dan memompanya dengan liar. Perlakuan kasar dan penuh nafsu itu, membuahkan perasaan nikmat yang luar biasa dalam diri Lisa. Pak Kobar membenamkan penisnya dan menggoyangkannya penuh semangat. Lisa mulai menyambutnya dengan memutar pantatnya, sehingga Pak Kobar merasa kalau penisnya bagai diurut dan diremas di dalam vagina Lisa. Akhirnya mereka berdua berpacu menikmati persetubuhan itu dan saling melampiaskan nafsu birahi mereka. Kocokan penis Pak Kobar makin lama makin liar di dalam vagina Lisa. Setelah 30 menit persetubuhan itu berlangsung, Pak Kobar sudah menunjukkan tanda-tanda akan menyemprotkan spermanya.

“Aghh bapak keluarin di dalam yah…eeegghhh.”

Tak lama kemudian, bp Kobar menyemprotkan spermanya yang begitu kental di dalam rahim Lisa….crrrooottt…crrrooottt…crrooott…

“Eeegghhh…” Pak Kobar mengejang melepaskan nafsu birahinya.

Lisa pun ikut mengejang turut mencapai klimaksnya “Aaggghhhh…”

Beberapa menit mereka terhempas dan luapan birahi yang begitu nikmat. Itulah kenikmatan yang dialami oleh Pak Kobar dan Lisa di rumah Hans, kekasih Lisa. Mereka buru-buru menyelesaikan persetubuhan liar yang penuh gairah itu. Setelah itu, Lisa membersihkan tubuhnya di kamar mandi Hans dari sisa-sisa persetubuhan itu. Untunglah persetubuhan siang itu berakhir, karena sekitar 15 menit kemudian Hans pulang. Dengan senyum yang manis dan memberi ciuman mesra, Lisa yang cantik itu menyambut Hans yang ganteng. Betapa mesranya mereka berdua, dan kemudian mereka berbincang-bincang untuk mengatur rencana nanti malam. Mereka setuju untuk menonton pertandingan final Wordcup dini hari di sebuah caffe di wilayah Senayan, dan Hans akan menjemput Lisa sekitar pk 9.30 nanti malam. Setelah berbincang sejenak, mereka berangkat makan bakso bersama di daerah Pondok Indah di dekat rumah Hans. Setelah selesai menyantap bakso itu, Hans mengantar Lisa ke mobilnya dan Lisa pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sesampainya di rumah, Lisa masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Sungguh hari yang melelahkan karena pengalaman seks yang terjadi atas dirinya. Sore hari itu Lisa tertidur begitu nyenyak di kamarnya. Sekitar pk 8.30 malam, Lisa bangun dan mengisi perutnya dengan makan roti dan minum susu rendah lemak kesukaannya. Setelah makan dan minum, Lisa membersihkan dirinya di kamar mandi. Malam ini, Lisa ingin tampil secantik mungkin di hadapan Hans. Lisa mengenakan pakaian yang agak seksi yang baru didapatkannya dari Cathy tadi siang, pakaian itu begitu pas di tubuhnya. Pakaian yang berbahan seperti kaos itu memperlihatkan pundak putih dan mulus Lisa yang terbuka bebas. Di bagian dadanya ada kap sebagai penganti bra untuk menyanggah payudara. Karena itu, Lisa tidak perlu menggunakan bh lagi. Panjang bagian bawahnya mengantung sekitar 20 cm di atas lutut, sehingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu. Pakaian yang dikenakan Lisa, pasti mengundang tatapan siapa saja yang melihatnya. Untuk menghndari hawa dingin yang menerpa pundaknya, Lisa mengenakan selendang transparan yang tetap memperlihatkan kemulusan pundak dan sebagian punggungnya yang terbuka. Tepat pukul 9.30 Hans sudah tiba untuk menjemputnya. Setelah ngobrol sebentar basa-basi dengan orang tua Lisa, mereka berpamitan meninggalkan rumah yang mewah itu menuju Caffe yang akan mereka tuju. Betapa Hans kagum akan kecantikan dan keseksian Lisa malam hari itu. Sesampainya di caffe itu, mereka memesan snack dan dua cangkir kopi hangat. Karena acara pertandingan final belum mulai, para penonton disuguhi oleh beberapa dance dan lagu serta acara lainnya yang menarik. Sambil menunggu siaran langsung itu, tampak sekali Lisa dan Hans mesra berbicara, beberapa kali mereka saling ciuman dan bibir mereka saling berpagutan mesra. Tak terasa juga, akhirnya pertandingan final siap dimulai. Para penonton sudah tidak sabar akan pertandingan yang pasti seru dan mendebarkan itu. Beberapa saat setelah pertandingan itu dimulai, Lisa sudah gelisah, karena sebenarnya dia kurang menyukai sepak bola, selain itu batere HPnya sudah sangat low batt. Rupanya Lisa lupa men-charge HPnya di rumah karena tadi keenakan tidur.  Lisa memang sengaja membawa alat chargernya, tetapi tertinggal di dalam mobil Hans. Maka ia mengajak Hans untuk menemaninya ke mobil untuk mengambil alat charger itu, tetapi Hans menolaknya karena sedang asyik nonton acara final itu.

Akhirnya Hans lebih meminta Lisa untuk mengambilnya sendiri di mobil. Sebenarnya Lisa kesal juga karena Hans tidak mau menemaninya ke mobil, tetapi mau bagaimana lagi. Akhirnya Lisa pergi sendiri ke tempat parkir di mana mobil Hans berada. Kini ia sudah mendapatkan alat charger itu dan ia pun mulai berpikir di mana tempat yang enak untuk mencharge HPnya. Sedang enak-enaknya berpikir, Lisa melewati sebuah ruangan yang kelihatannya agak ramai. Rupanya Lisa melewati kantor satpam, dan di dalamnya ada lima orang yang sedang asyik menonton pertandingan final. Ketika Lisa melewati pintu kantor itu, dia celingak celinguk ke dalam kantor itu.

“Selamat malam non, ada yang bisa dibantu?” seorang satpam kemudian bertanya kepadanya.

Cerita Populer