Wednesday, May 25, 2011

Skandal di Rumah Lisa PART 1

Pagi itu sekitar jam 9, Lisa sedang santai di rumahnya di salah satu perumahan elit di kawasan Cibubur. Belum tau apa yang akan ia kerjakan pagi ini. Mau keluar, rasanya malas. Mau ketempat kos Mamat juga percuma, karena dia sedang banyak tugas mengantar ayam goreng. Nanti malam sudah janjian dugem dengan Hans, pacarnya sambil nonton final piala dunia antara Spanyol dan Belanda di sebuah caffe di daerah Senayan. Sejak Lisa bersetubuh dengan Mamat di rumah ci Lily (juga dengan Otong, pembantu di rumah ci Lily), gairah birahi Lisa sering menggila. Karenanya, Lisa sering janjian ketemu dengan Mamat, pemuda kampung itu untuk bersama melepaskan syahwat entah di tempat kos Mamat, di losmen atau hotel. Seminggu bisa 3x mereka mereguk nafsu birahi, dan rupanya Lisa sangat menikmati persetubuhannya dengan Mamat karena Mamat begitu perkasa bila sudah di atas ranjang dan mampu membuatnya menggelinjang dan merintih penuh nikmat. Lisa begitu puas bila bersetubuh dengan Mamat dibandingkan dengan Hans. Sedang asyik-asyiknya melamun di teras kamarnya yang menghadap ke taman, rumahnya kedatangan dengan seorang tukang yang sedang membereskan saluran air di rumahnya. Tukang itu disuruh oleh papanya untuk memperbaiki seluruh saluran air di rumah mewah itu, karena dirasa air yang keluar dari setiap kran air begitu kecil. Tukang itu usianya sekitar 35an, badannya kecil, kepalanya botak, tetapi kelihatan sekali dia begitu kuat.

“Permisi non, saya bang Said mau ngecek kran air di kamar mandi non. Tadi tuan suruh saya ngecek semua kran dan saluran air.”

“Boleh bang, silahkan. Tapi saya mau mandi dulu yah. Bang Said cek yang di taman dulu aja.” Lisa mempersilakannya masuk

“Iya non, beres. Bang Said beresin yang di taman ini dulu yah.” Said, si tukang yang disuruh oleh papanya Lisa, terus memperhatikan paha Lisa yang mulus dan putih itu.

Apalagi Said bisa menatap payudara Lisa yang masih dibungkus oleh kaos tipis berwarna putih, yang berguncang-guncang. Memang pagi itu, Lisa masih mengenakan celana tidurnya yang begitu pendek seperti hotpants dan kaos putih dan agak transparan tanpa lengan yang mengantung di atas pusernya. Lisa memang tidak pernah memakai bh dan cd bila tidur dan hanya mengenakan celana hotpants yang amat pendek dan kaos yang enak dipakai. Tentu saja mata Said yang liar itu menatap sebagian paha yang indah dan payudara di balik kaosnya yang menerawang sexy itu. Lisa sebenarnya menangkap tatapan liar mata itu pada bagian tubuhnya, tetapi ia cuek saja. Ia rupanya senang bila ada orang yang mengagumi keindahan tubuhnya yang masih muda itu. Pesta seks tempo hari di rumah kakak perempuannya ternyata sudah mulai menjerumuskannya menjadi gadis remaja yang liar.

Sengaja Lisa membuka pintu kamar itu, sehingga Said bisa melihat isi bagian dalam dari kamar Lisa. Saat sedang merendam tubuhnya di bathtub, muncul ide nakal darinya. Apalagi ketika Lisa sedang menggosok payudara dan vaginanya, muncul nafsu liar dalam dirinya yang menuntut pelampiasan. Karena pagi itu rumah sudah sepi, akhirnya Lisa memutuskan untuk menggoda bang Said. Lisa mengambil handuk yang pendek dan tipis dan melilitkannya pada tubuhnya yang putih mulus bagaikan pualam itu. Handuk itu tidak mampu menutupi keindahan tubuhnya, sebagian buah pantatnya terpampang dengan jelas, sedangkan bagian atasnya hanya menutupi setengah payudaranya. Bahkan terlihat samar-samar aerola payudara Lisa yang berwarna merah muda.

“Bang Said, nih kran airnya dicek!” panggilnya

Tak lama kemudian, bang Said masuk ke dalam kamar Lisa yang terbuka itu. Betapa kaget pria itu melihat pemandangan indah tubuh Lisa yang dibungkus handuk yang masih memperlihatkan paha yang terbuka dan belahan payudara dengan menantang itu. Mengesampingkan rasa canggungnya, Lisa mempersilahkan bang Said masuk ke dalam kamar mandi.

“Tuh krannya di situ, coba di cek, bang” kata Lisa sambil membungkuk dan mengutak-atik kran air itu.

Tindakan itu membuat handuk yang menutupi pantatnya terangkat. Kontan mata bang Said melotot mau keluar menyaksikan pemandangan yang begitu indah saat Lisa membungkuk. Said bisa melihat gumpalan pantat Lisa begitu putih, mulus dan membulat indah terpampang bebas, bahkan ketika Lisa merenggangkan pahanya, Said bisa melihat dengan jelas bulu kemaluan Lisa yang lebat dan belahan vaginanya. Lisa memang sengaja melakukan hal itu untuk menaikkan tensi birahi Said. Apalagi Said sudah lama tidak bersetubuh dengan istrinya di kampung, yang kini sedang hamil 6 bulan. Ketika disuguhkan pemandangan seperti itu, ia pun begitu nafsu dengan Lisa, gadis cantik berusia 18 tahun yang masih segar, putih, bening dan anak orang kaya. Di sisi lain, Lisa juga mendambakan sodokan dan kocokan penis besar di dalam vaginanya. Untuk lebih menggoda Said yang kelihatan sudah diliputi birahi, Lisa mengucapkan kalimat yang nakal

“Bang Said pasti nganceng nih, lihat Lisa seperti ini. Kepengen yah bang?” dengan senyum nakal, Lisa menggoda Said yang berbadan gelap namun kekar itu.

“Ah…nggak non Lisa, mana abang berani? Bisa dilaporin ke polisi. Hehehe.” Jawab Said gugup

Untuk membuat Said lebih berani lagi perlahan-lahan Lisa bertanya dan melakukan hal yang sangat berani

“Kepengen nggak bang? Gimana kalo Lisa begini…”

Betapa terkejutnya Said pada saat itu, gadis cantik dan sexy itu lalu dengan perlahan membuka handuk itu dan membentangkannya lebar-lebar, sehingga terlihatlah apa yang ada di balik handuk itu. Dengan senyum manja dan menggoda, Lisa melepas handuk itu di hadapan Said. Kini Lisa sudah telanjang bulat, bugil polos di hadapan bang Said.

“Wah, non Lisa, badannya putih banget, montok sekali…mulus dan masih kencang.”

Cerita Populer