Friday, May 20, 2011

Kisah SMA, Nikmat Yang Menyedihkan

Story by : Dina Sinta ( samaran )

Hai, perkenalkan nama aku Dina Sinta. Panggil saja Dina. Sebenernya itu bukan nama asli aku sih, abis gimana lagi? Aku ga mau identitasku terungkap di publik. Kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku sewaktu aku SMA. Waktu itu, aku tergolong cewek yang bisa dibilang 'liar'. Kenapa liar? Ya mungkin karena waktu itu aku sedang dalam masa mencari jati diri. 

Waktu SMA, ga tau kenapa aku suka banget sama yang namanya wedangan ( kalo di Jakarta mungkin istilahnya warung kopi ). Tiap malem, aku pasti nongkrong dengan teman satu genk di salah satu wedangan di kota 'S'. Sampai suatu ketika, ada kejadian yang membuatku lebih suka nongkrong di wedangan sendirian, tidak bersama teman satu genk.

Kejadianya pada pertengahan tahun 2008. Waktu itu aku kelas 3 SMA. Seperti biasa, aku janjian dengan teman satu genk untuk nongkrong di wedangan. Dalam perjanjian, jam 7 malam semuanya harus udah kumpul di wedangan itu. Tapi setelah hampir jam 7 malam, aku masih belum bisa datang karena aku sibuk mengurus anjing peliharaanku yang sedang sakit. Akhirnya aku kirim SMS ke salah satu temen 1 genk-ku, namanya Rima. Intinya, SMSku berisi permintaan maaf kalau aku pasti datang, tapi agak terlambat.

Setelah urusanku selesai, aku langsung bersiap - siap menuju wedangan. Tapi setelah aku lihat jam, ternyata sudah jam 9 malam. Aku sempet ngrasa ga enak sama temen 1 genk. Tapi aku berpikir, lebih baik terlambat daripada ga dateng sama sekali. Akhirnya aku berangkat ke wedangan tersebut. Setelah sampai, aku sempet bingung karena di wedangan tersebut hanya ada 5 orang yang nongkrong. 2 Orang berusia sekitar 30an, dan yang 3 orang kayaknya masih kuliahan. Dan semuanya cowok.

Aku pun turun dari motor dan tanya ke penjual wedangan itu, " Pak, temen - temen saya pada kemana ya?".
Penjual itu menjawab, "Wah, udah pulang daritadi tu mbak".

Dengan perasaan sebel, akhirnya aku kembali ke motor, berniat untuk pulang. Tapi aku ngrasa perutku kok lapar ya? Maka aku putuskan untuk makan dulu di wedangan itu. Saat aku makan, kelima orang yang nongkrong tadi sepertinya curi - curi pandang melulu kepadaku. Jujur aku risih, tapi mau gimana lagi karena aku sadar kalau aku memang seksi. :)

Waktu itu aku mengenakan jaket dan celana jeans sedengkul. Mungkin mereka sering curi pandang ke arahku karena retsleting jaketku ga aku tutup seluruhnya. Jadi hanya sebatas di atas dada. Dan parahnya lagi, aku hanya menggunakan bra di balik jaketku. Jadi aku tidak memakai kaos. Mungkin inilah yang membuat mereka penasaran.

Sampai pada suatu ketika, salah satu dari mereka menggodaku. "Mbak, malem-malem kok sendirian aja? Mau ditemenin ga?", salah satu anak kuliahan menggodaku. Aku pun menjawab, " Enggak mas, saya udah mau pulang kok. Terima kasih."

Tapi nampaknya 3 anak kuliahan itu tak puas dengan jawabanku. Mereka pun mendekatiku dan berusaha merayuku. "Udahlah mbak, saya tau mbak ga pake apa-apa kan di balik jaket? Sini kita temenin aja. Mbak minta berapa?".

"Gila, mereka pikir aku cewek bookingan!", pikirku. Tapi, karena anjing peliharaanku lagi sakit dan butuh ke dokter, aku pun memikirkan kembali tawaran mereka. Maklum, uangku ga cukup untuk membawa anjingku ke dokter hewan. "Emang berani berapa kalian?", balasku.

"Berapapun yang mbak minta, kita kasih deh", jawab salah satu dari anak kuliahan itu.
"Oya? Oke deh. Tapi jangan panggil saya 'mbak'. Saya ini masih SMA, panggil aja Dina.", jawabku.

Akhirnya mereka menyuruhku membuka retsleting jaketku sampai ke perut. Aku pun kaget. "Masak buka di sini?", tanyaku. "Gapapa Din, ga keliatan orang laink kok.", jawab mereka. saat itu, aku dan 3 anak kuliahan itu memang duduk terpisah dari 2 bapak yang sedang nongkrong juga di wedangan. 2 bapak itu duduk di kursi di dalam tenda wedangan, sementara aku dan 3 anak kuliahan itu lesehan di luar wedangan. Suasana sekitar pun sangat sepi karena memang daerah sini terkenal akan 'sepi'nya. Apalagi kalau udah di atas jam 9 malam.

Aku pun menyanggupi permintaan mereka. Aku menurunkan retsleting jaketku sampai sebatas perut. Lalu mereka mendekat dan mulai meraba- rabaku. Jujur, aku agak takut. Tapi karena aku butuh uang, jadi mau gimana lagi?

Saat mereka meraba - raba tubuhku, aku merasa sudah tidak canggung lagi. Walaupun aku belum pernah ML, tapi aku sering melakukan petting dengan pacar-pacarku dulu.

Mereka terus sibuk merabaku dan meremas payudaraku yang masih ditutupi bra berwarna kuning. Birahiku pun semakin meningkat. Dalam hatiku, aku ingin mereka membuka bra-ku, sehingga jari-jari mereka bersentuhan langsung dengan putingku. Dan tiba-tiba hal itu menjadi kenyataan. Salah satu dari mereka mengangkat bra-ku, sehingga sekarang payudaraku sudah bebas lepas. Aku pun hanya bisa menikmati perlakuan mereka. Apalagi, setelah ini aku dibayar. "Asiiik", pikirku.

Di saat aku sedang menikmati perlakuan mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka menarik wajahku. "Din, isep punya gua donk.", ucap salah satu dari mereka. Aku pun kaget dan menjawab," Gimana caranya? Aku belum pernah."

Jujur aku memang belum pernah melakukan oral seks, tapi aku sering menonton video bokep milik kakakku. Ga tau kenapa, dalam semua video itu hanya memperagakan oral seks. "Cepetan donk, Din.", pinta anak kuliahan itu.

"Iya, bawel !", jawabku. Aku pun mulai melumat penis anak kuliahan itu, kalau ga salah namanya Edo. Aku pun hanya memasukan penisnya ke dalam mulutku. Itu pun hanya setengahnya. Aku bingung, karena jujur aku memang belum pernah. Lalu Edo memegang kepalaku dan mendorongnya agar penis itu masuk seluruhnya ke mulutku. Aku sempat ingin muntah rasanya, sementara 2 temanya masih asik memainkan payudaraku. Saat itu posisiku duduk di depan Edo yang sedang berdiri menghujamkan penisnya ke mulutku. Sementara 2 temanya ada di samping kanan dan kiriku.

Aku hanya bisa diam dan mengikuti apa yang mereka mau. Saat itu, Edo hanya memegang kepalaku, mendorongnya dan menariknya. Jadi dengan kata lain, kepalaku maju mundur dibuatnya. Aku pun mengerti maksudnya dan kemudian aku bisa melakukanya sendiri. Edo pun melepaskan tanganya dari kepalaku. Sekarang aku yang pegang kendali. Aku gerakan kepalaku maju mundur. Sesekali aku melihat ke atas, melihat bagaimana reaksinya waktu lidahku menjilati penisnya. Ini aku lakukan sekitar 15 menit sampai pada akhirnya tangan edo kembali memegang kepalaku. Ia mendorong kepalaku sehingga penisnya tertancap sangat dalam di mulutku dan ujungnya menyentuh kerongkonganku. Aku pun berusaha menarik kepalaku karena aku merasa mau muntah dibuatnya. Tapi tangan Edo sangat kuat, dan akhirnya aku merasakan ada cairan keluar dari penis Edo. Cairan itu masuk ke kerongkonganku dan meluber ke mulutku. Sebagian ada yang tumpah keluar dari mulutku. Beberapa detik kemudian, Edo melepaskan penisnya dari mulutku. Aku pun segera ingin memuntahkan cairan yang masih tersisa di dalam mulutku. Tapi tiba-tiba Edo memegang kepalaku lagi. "Kalau mau uang, telan cairan itu", perintahnya. 

Akhirnya dengan terpaksa aku menelan cairan itu. Sebagai bukti, aku buka mulutku di hadapan Edo. "Bagus!", puji Edo. Setelah itu, ia memberiku uang sebesar 500ribu rupiah. Aku kaget, "Gimana dengan 2 temanya? Kan belum aku servis.", pikirku. Tapi terserahlah, yang penting aku dapet uang. Mereka pun kemudian segera bergegas pulang. Namun, sebelum pulang Edo berkata padaku,"Besok kalau butuh uang lagi, Telpon aku.", ucapnya sambil memberikan kartu namanya padaku.

"Iya, makasih ya.", jawabku. Setelah mereka pergi, aku juga bergegas pulang dengan hati yang gembira karena dapet 500ribu! "AsiiiK!", pikirku.

Setelah kejadian itu, aku sering ke wedangan sendirian, tidak bersama teman 1 genk.

Cerita Populer