Saturday, June 4, 2011

Cerita Humor : Lebih Jago Ibuku

Saat jam istirahat sekolah, ada 3 orang anak SD sedang berbincang tentang kehebatan ibunya masing-masing di kantin sekolah mereka.

Anak A, "Wah, kemarin aku lihat ibuku bisa nyetir motor vespa loch! Hebat kan ibuku?"
Anak C menjawab, "Hebat apaan? Lebih hebat ibuku donk. Dia bisa nunggangin kuda! Kalo cuma motor Vespa sih gampang! hahaha."
Lalu dengan polosnya, anak B berceletuk, "Naik vespa dan nunggang kuda aja bangga! Ibuku lebih jago daripada ibu kalian."

Si A dan C pun kaget. Mereka serempak bertanya, "Emang ibumu bisa apa?"
Anak B itu menjawab, "Aku kemarin malem ga sengaja lihat ibu sedang menunggangi bapak kayak kuda! Dan hebatnya lagi, ibuku berani gak pake baju waktu lagi menunggangi bapak! Hayooo, apa ibu kalian bisa?"

Wakakakak!
:D

Wednesday, June 1, 2011

Cerita Humor : Istilah Anak Kecil

Dedi adalah bocah laki - laki berusia 6 tahun yang sangat polos. Suatu hari, sepulang sekolah, tiba - tiba dedi bertanya sesuatu yang tak wajar pada ibunya. "Bu, penis itu apaan sih?", tanya Dedi.

Sang ibu pun kaget bukan main. Agar tidak salah jawab, ibu Dedi pun terpaksa berbohong. "Penis itu piring, nak.", jawabnya.

Lalu, Dedi bertanya lagi, "Kalau vagina dan ML tuh artinya apa bu?"

Sang ibu pun berbohong lagi, "Vagina itu nasi, ML itu artinya makan."

"Oh, yayayayayaya", jawab Dedi yang percaya dengan kata ibunya. 

Setelah itu, Dedi segera masuk kamar dan ganti baju. Setelah ganti baju, Dedi keluar kamar untuk menonton TV, sementara sang ibu berada di dapur menyiapkan makanan. Tiba - tiba ada suara dari luar rumah. Ternyata ada Pak Hansip datang ingin menemui sang ibu. Maka, Dedi pun memanggil ibunya. Dedi pun ikut menemani sang ibu ketika menemui pak hansip itu. Beberapa menit kemudian, pak hansip pamit pulang. Dedi dan sang ibu bergegas masuk ke rumah. 

Tak berapa lama kemudian, sang ayah pun pulang dari kerjanya. Sesampai di dalam rumah, sang ayah bertanya pada Dedi, "Nak, pak RT bilang kalau pak hansip tadi ke sini ya? Ngapain?"

"Oh, tadi pak hansip ke sini nemuin ibu, Yah!", jawab Dedi.
Sang ayah pun bingung, "Nemuin ibu? Ngapain?"

"Iya, nemuin ibu. Tadi pak hansip ngasih 'PENIS' ke ibu. Terus, ibu kasih 'VAGINA' deh. Karena kata ibu, kita harus rajin ngasih jatah 'ML' ke pak hansip.", jawab Dedi polos.

Wakakakakak! :D

Monday, May 30, 2011

Andani Citra Lukisan Bugilku Part 4

Lagi enak-enaknya terbuai tiba-tiba HP-ku berbunyi, sehingga Felix berhenti sejenak melihat asal suara
“HP lu tuh Ci, mau diangkat ?” tanyanya
“Udah ah biarin aja…ayo lagi tanggung nih !” kataku sambil membenamkan wajahnya ke dadaku lagi
Dari ringtonenya aku tahu itu pasti salah satu dari geng-ku, kalau tidak Verna, Indah, atau Ratna, paling-paling mau ngajak jalan atau ketemuan, nanti juga bisa.
“Ci, tapi itu…kalo penting…?” tanyanya lagi
“Cerewet, ayo terusin lagi, bukan urusanlu !” bentakku membenamkan lagi wajahnya ke dadaku
Kamipun kembali berpacu dalam nafsu, ringtone HP-ku terus berbunyi sampai berhenti beberapa saat kemudian. Dia kini lebih ahli melakukan tugasnya, hisapannya pada payudaraku semakin mantap, pipinya sampai kempot menghisapnya. Tangannya pada vaginaku bukan cuma mengusap-usap saja, namun sudah berani menusuk-nusuk sambil tetap memainkan klitorisku. Sebelum dia membuatku orgasme aku memegang pergelangan tangannya dan menyuruhnya menarik keluar dari vaginaku. Jari-jarinya basah sekali oleh cairan kewanitaanku.

Aku mencegahnya waktu dia mau mengelap jarinya itu.
“Jangan dibuang dong, mubazir” cegahku
“Hah, tapi lengket gini Ci, emang mau diapain ?” tanyanya heran
Aku tidak menjawabnya selain mendekatkan telapak tangannya ke mulutku, kemudian kumasukkan jari telunjuknya ke mulutku, kuemut dengan penuh perasaan merasakan cairanku sendiri. Tatapan mataku yang binal menatap wajahnya yang terbengong-bengong dengan tingkahku yang liar.
“Coba Lix, rasain deh sarinya cewek seperti gua tadi !” kudekatkan jari-jari basah itu ke mulutnya
Mulanya dia agak ragu-ragu dan risih mencicipi cairan itu, namun karena kubujuk terus akhirnya dia pun pelan-pelan menjilati juga cairanku yang belepotan di jarinya itu.
“Terus..lagi di sebelah sana tuh, belum habis” aku menyemangatinya karena dia ragu-ragu menjilatinya.
“Gimana rasanya ?” tanyaku dengan tertawa tertahan
“Aneh Ci, tapi lama-lama enak juga sih”

Setelah itu aku menyuruhnya rebahan lalu aku naik ke atasnya. Aku melepaskan kacamatanya lalu menaruhnya di meja kecil sebelah ranjang. Kami berpelukan erat dan kembali berciuman dengan penuh gelora. Sambil berciuman tangannya menjalar turun mengelus punggungku dan meremas kedua belah pantatku. Nafas kami sudah demikian memburu sehingga hembusannya terasa pada wajah masing-masing. Mulutku merambat ke bawah menciumi lehernya dan terus ke dadanya, putingnya kucium dan kugigit agak keras sambil menariknya.
“Aooww…Ci…nakal lu yah…kaget tau !” tersentak kaget dengan gerakan agresifku
Aku tertawa cekikikan karena reaksinya, dasar amatiran, lucu banget ML sama yang model ginian. Sesaat kemudian aku meraih penisnya dan mulai mengarahkannya ke vaginaku.
“Selamat yah sebentar lagi lu jadi pria dewasa” ucapku seolah menyalaminya yang sedang menuju saat-saat terakhir keperjakaannya.
Pelan-pelan aku menurunkan badanku hingga benda itu melesak ke dalamku diiringi desahan kami. Aku melihat wajahnya yang meringis antara rasa perih dan enak merasakan barangnya dijepit vaginaku. Setelah masuk setengahnya aku langsung menduduki penisnya dan bless…amblaslah benda itu seluruhnya ke dalamku. Aku mendesah panjang, begitupun Felix, matanya melotot dan mengerang merasakan jepitan dinding vaginaku pada penisnya yang merenggut keperjakaannya.

Aku sengaja mendiamkan sejenak penisnya tertancap padaku supaya dia bisa beradaptasi dan meresapi saat-saat pertamanya dulu. Kemudian aku mulai menggoyangkan pinggulku pelan-pelan.
“Enak say ?…eeemmhhh !” tanyaku lirih
“Iya Ci….oohh…enak abis…ughh, mantap !”
Gerakan naik-turunku bertambah cepat secara bertahap, payudaraku mulai ikut bergoyang-goyang seirama goyang badanku.
“Mainin toked gua Lix…ohhh !” pintaku manja sambil menaruh tangan kanannya ke payudaraku
“Aahh..ahhhh…yang keras pencetnya !” desahku makin gila bersamaan dengan birahiku yang makin tinggi
Hentakan badanku makin keras sampai kepala penis itu terkadang menyodok-nyodok rahimku. Keringat pun bercucuran pada tubuh dan wajah kami apalagi kamar ini tidak ber-AC, cuma dipasang exhaust van di atas pintu. Walaupun aku berusaha agar tidak terlalu gaduh mengingat hari masih terang dan banyak orang lalu lalang, namun sesekali aku tak kuasa menahan jeritan kecil kalau hentakannya kencang atau mengenai G-spot ku. Memang tidak nyaman melakukannya pada saat dan tempat seperti ini, tapi kalau sudah kebelet ya apa boleh buat, lagipula ada sensasi tersendiri juga bermain dalam keadaan tidak safe seperti ini.

Tak lama kemudian aku merasakan perasaan yang luar biasa sehingga secara alami goyangan badanku bertambah kencang, hal ini membuat erangan kami semakin terdengar. Tanpa mengurangi frekuensi genjotan aku menunduk melumat bibirnya dengan tujuan meredam suara kami agar tidak mengundang perhatian. Akhirnya ketika gelombang orgasme menerpa, yang terdengar hanya erangan tertahan, dengan refleks aku menekan vaginaku hingga penis itu tertancap maksimal, Felix jadi kelabakan karena aku menghisap lidahnya dengan kuat ditambah pelukanku yang makin erat. Akhirnya tubuhku melemas di atasnya dengan penis masih menancap di vaginaku. Dibelainya rambut dan punggungku dengan lembut
“Ci, itu tadi yang namanya orgasme yah ? gila banjir banget lu tadi, tapi enak, hangat !” komentarnya
“Kamu capek Ci ? udah lemas gini” tanyanya melihatku yang bernafas ngos-ngosan.
“Nggak, lu juga masih kuat kan, sekarang kita ganti gaya yah !” kataku sambil bangkit dan bertumpu dengan kedua tangan dan lututku
Pinggulku kutunggingkan seakan menantangnya memperlihatkan kemaluanku yang merah dengan bulu-bulunya hitam yang lebat. Tanpa harus kuajari lagi Felix menempelkan penisnya pada bukit kemaluanku yang becek. Dengan mesra dia membenamkan penisnya sedikit demi sedikit.
“Ooohh…yeahh ! fuck me like that…uuhh…i’m your bitch now !” erangku liar

Ronde berikutnya pun dimulai, kami saling memacu tubuh kami dalam posisi doggy. Sambil menggenjotku, tangannya memijati payudaraku yang bergelayutan dengan lembut, kupegangi tangannya agar remasannya ke payudaraku tambah keras, tubuhku kugoyangkan berlawanan arah dengan sentakannya sehingga sodokan penisnya makin terasa. Tidak sia-sia ajaranku, ternyata dia tidak mengecewakan seperti perkiraan dulu. Lima belas menit kemudian, kami berganti posisi lagi, aku telentang di tengah ranjang membuka lebar kakiku sementara dia tetap dalam posisi berlututnya diantara kedua pahaku. Sekarang dia yang memegang kendali tanpa arahan-arahan dariku lagi, kedua betisku dinaikkan ke pundaknya, tangannya turut aktif menjelajahi tubuhku. Yang kulakukan kini hanyalah mendesah, menggeleng-gelengkan kepala dan menggigit jari menikmati hasil pengajaranku. Aku lalu menurunkan kedua betisku itu dan meraih lehernya, mengisyaratkan agar dia maju menindihku. Kami sudah demikian hanyut dalam kenikmatan sampai dua SMS yang masuk ke HP-ku pun tidak mengusik kami. Sambil terus menggumuliku, dia menciumiku di mulut, pipi, telinga, dan leher
“Ahh-ahhh…Lix, kita coba keluar barengan ya, lu udah mau kan” desahku sambil mempererat pelukan ketika kurasakan perasan itu sudah mendekat
“Iyah Ci, gua juga udah mau !” jawabnya terengah-engah sambil mempercepat genjotannya.

Kembali aku mengalami klimaks bersamanya yang lebih panjang dari sebelumnya, tanpa peduli keadaan aku mengerang panjang melepaskan segala perasaan yang ada dalam diriku. Disaat bersamaan pula, Felix menyusul ke puncak dengan menyemburkan maninya yang kental ke vaginaku hingga bercampur dengan lendir kewanitaanku.
“Oouuughh…!” dia pun melenguh panjang mengakhiri permainan ini
Kami berciuman dalam pelukan menikmati sisa kenikmatan hingga akhirnya terkulai lemas bersebelahan namun masih tetap berpelukan, mata kami saling pandang satu sama lain tanpa berkata-kata karena masih lelah.
“Ci, lu bakal hamil ngga ntar, takutnya…” tanyanya dengan khawatir
Aku tersenyum dengan pertanyaan polosnya lalu menjawabnya sambil memegang hidung kecilnya
“Ah lu, udah ngelakuin baru tanya akibatnya, tapi tenang, cewek kan ada masa-masa suburnya dan sekarang gua lagi aman kok, masa gitu aja ga tau sih ? kaan dulu di biologi ada ?”
“Iya sih, tapi kan prakteknya gua belom gitu jelas, sekarang baru dijelasin ama lu hehehe” dia tertawa renyah
“Eh Ci, gambar yang ini buat gua aja yah, buat kenangan pertama kalinya gua ngelukis bugil, ntar kalau mau gua gambarin lagi buat lu, please” pintanya
Aku sih iya-iya saja, toh niatku menggodanya sudah tercapai.

Hari-hari berikutnya, kami beberapa kali bekerjasama membuat ‘karya seni’. Tidak jarang aku memberi saran mengenai latar dan pose. Kami saling berbagi pengalaman, aku mendapat pengalaman sebagai model lukisan, dia pun mendapat banyak wawasan untuk meningkatkan bakat seninya dan tidak ketinggalan pelajaran seks dan hubungan sosial dariku. Kini Felix sudah lebih pandai bergaul, tidak sekuper dulu lagi. Bahkan pernah dia mengutarakan perasaannya padaku, namun sayang aku harus menolaknya dengan halus, karena aku belum siap mendapatkan pacar lagi sejak hubungan cintaku di masa lalu kandas tiga kali. Kami tetap berteman baik hingga kini. Ketika aku lulus beberapa bulan lalu dia telah mempunyai pacar. Syukurlah, aku pun senang karena bisa membantunya belajar mengenai hidup dan membuatnya lebih terbuka.

Andani Citra Lukisan Bugilku Part 3

Ternyata jadi model lukisan gini capek juga loh, harus diam terus dan menjaga ekspresi wajah selama beberapa saat lamanya, semenit jadi seperti satu jam rasanya.
“Wuiihh…finally !” sahutnya dengan bernafas panjang setelah empat puluh menitan bekerja keras
“Udah Lix ? coba gua liat dong hasilnya sini” pintaku tak sabar ingin melihat hasilnya
Dia berjalan ke sini dan duduk di tepi ranjang memperlihatkan karyanya kepadaku
“Puas ga Ci ? sory yah kalo jelek kan baru kali ini”
Aku mengamat-amati gambar itu sejenak, harus kuakui hasilnya lumayan, walaupun mukaku terlihat lebih lebar di gambar itu, namun secara keseluruhan sudah ok. Aku tahu dia terus memandangi tubuh polosku sejak tadi, tapi kubiarkan saja dia menikmatinya sambil aku melihat gambarnya.
“Hhmm…ga nyesel kayanya gua cape-cape duduk telanjang selama ini yah, ya ga Lix ?” kataku sambil menolehkan wajah melihatnya yang sedang memperhatikanku yang tanpa tertutup sehelai benangpun dengan wajah memerah.
“Eh..kenapa lo Lix, kok ngeliatin gua sampai kaya gitu, belum pernah liat cewek bugil ya sebelumnya ?” ujarku dengan tersenyum nakal
“Liat aja sih sering Ci, tapi kalau yang beneran baru kali ini, pernah juga melihat adik gua baru keluar mandi itu juga ga sengaja” katanya sambil garuk-garuk kepala
“Jadi pegang-pegang badan cewek ga pernah dong ?” tanyaku memancingnya
“Walah apalagi itu Ci, pacar aja belum, mo sama siapa” dengan sedikit terkekeh

“Terus gimana reaksilu ngeliat gua ga pake apa-apa di depan lo gini ?”
“Wah…gimana yah, susah omongnya nih, ya agak shock juga tadi abis baru kali ini” jawabnya gugup
“Ada pikiran macam-macam gitu ngga waktu ngegambar tadi ?” pancingku lagi
“Emmm…macam-macam gimana contohnya Ci ?” tanyanya pura-pura bego atau memang bego nih, ga taulah, who care, lucu juga aku dengan tingkahnya ini
“Ya misalnya gini nih” seraya kuraih tangannya dan kuletakkan pada payudara kiriku.
Terasa sekali tangannya gemetaran memegang dadaku, mulutnya melongo tak sanggup berkata-kata dan mukanya tambah merah saja. Kubimbing tangannya meremas-remas payudara montokku.
“Mmhh…gitu remasnya, pakai perasaan…putingnya juga”
Dia menuruti apa yang kuajarkan walau masih diam terbengong. Setelah gemetarnya berkurang aku memulai aksi terusannya, kudekatkan bibirku padanya hingga saling berpagutan.
“Mulutnya dibuka Lix, jangan kaku gitu, gua ajarin lu cipokan” bisikku dengan nada manja
Dengan agresif lidahku menjelajahi mulutnya, menyapu ke segenap penjuru, menjilati lidahnya mengajak ikut bermain sehingga pelan-pelan lidahnya juga mulai aktif mengimbangiku. Tangannya pun tanpa kubimbing lagi sudah menikmati payudaraku dengan lebih semangat, bahkan kini dia lebih berani menjulurkan tangan satunya ke belakangku dan mengelusi punggungku.

Setelah puas berciuman, perlahan aku menarik mulutku, air liur nampak menetes dan berjuntai seperti benang laba-laba ketika mulut kami berpisah pelan-pelan.
“Itu tadi namanya Frech Kiss, Lix, udah bisa belum ?”
“Ho-oh, seru banget, lagi dong Ci !” pintanya
“Eiitt…sabar dulu, jangan buru-buru, masih banyak yang lebih seru” kataku sambil membukakan kaosnya dan melemparnya ke kursi “Lu berdiri dulu dong, gua bantu buka celananya !”
Dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depanku yang duduk di pinggir ranjang. Kulucuti celananya tanpa menghiraukan reaksinya yang malu-malu, terutama ketika akan kubuka celana dalamnya.
“Iihh…rese amat sih, minggir sana tangannya, gua bugil di depanlu aja santai, masa lu yang cowok malu-malu kucing gini !” bentakku pelan
“Iya…iya Ci, sori habis baru pernah nunjukin anu gua ke cewek sih” katanya gugup membiarkan celana dalamnya kuturunkan.
Aku melihat penisnya yang sudah tegang lalu kugenggam dengan jari-jari lentikku.
“Wah, belum maksimal nih ngacengnya, liat aja nanti kalau udah ngerasain mulut gua, pasti ketagihan lu, hehehe…!” pikirku mesum
“Udah gede gini juga masih bilang malu, munafik lo ah !” ujarku sambil mengusapnya.

Kumulai dengan mengecup kepala penisnya dan memakai ujung lidahku untuk menggelikitiknya. Kemudian lidahku turun menjalari permukaan benda itu, sesekali kugesekkan pada wajahku yang halus, kubuat penisnya basah oleh liurku. Bibirku lalu turun lagi ke pangkalnya yang dipenuhi bulu-bulu, buah pelirnya kujilati dan yang lainnya kupijat dalam genggaman tanganku. Beberapa saat kemudian mulutku naik lagi dan mulai memasukkan benda itu ke mulutku. Kuemut perlahan dan terus memijati pelirnya.
“Aaa..ahhh..geli Ci…uuhhh !” desahnya bergetar
Kulihat ekspresinya meringis dan merem-melek waktu penisnya kumain-mainkan di dalam mulutku. Kujilati memutar kepala kemaluannya sehingga memberinya kehangatan sekaligus sensasi luar biasa. Semakin kuemut benda itu semakin keras dan membengkak. Aku memasukkan mulutku lebih dalam lagi sampai kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokanku. Setelah beberapa lama kusepong, benda itu mulai berdenyut-denyut, sepertinya mau keluar. Aku makin gencar memaju-mundurkan kepalaku mengemut benda itu. Felix makin merintih keenakan dibuatnya, tanpa disadarinya pinggulnya juga bergerak maju-mundur di mulutku. Tak lama kemudian muncratlah cairan kental itu di dalam mulutku yang langsung kusedot hingga tuntas. Kulirikan mataku ke atas melihatnya merintih sambil mendongak ke atas, tangannya mengucek-ucek rambutku.

Sisa mani yang belepotan di batangnya kujilati hingga bersih, lalu aku merebahkan diriku di ranjang dan menarik tangannya agar berbaring menindihku, gambar itu kubiarkan jatuh ke lantai, daripada kusut di ranjang tergencet tubuh kami nanti.
“Wah…sumpah enak banget tadi itu Ci !” katanya di dekat wajahku
“Itu tadi baru pemanasannya, sayang, kita masih belum beres” kataku sambil membelai lembut rambutnya
“Yuk, sekarang nyusu aja dulu sambil istirahat” suruhku memberi syarat padanya untuk melumat payudaraku
“Gua isep sekarang yah Ci” katanya dengan kedua tangan sudah mencaplok sepasang payudaraku.
Aku mendesis dan tubuhku menegang merasakan mulut Felix mulai beraksi di payudaraku. Bongkahan dada kananku dia jilati seluruhnya hingga basah, lalu dikenyot-kenyot di dalam mulutnya. Kepalanya kudekap erat pada payudaraku. Selesai dengan yang kanan kini dia melakukan hal yang sama terhadap yang kiri yang sejak tadi dia remasi dengan tangannya. Kedua payudaraku jadi basah oleh liurnya. Tangannya mulai berani menyusuri lekuk-lekuk tubuhku, pantatku yang sekal dia elus-elus sambil terus menyusu. Kuraih telapak tangannya yang lagi mengelus pantatku dan menggiringnya ke vaginaku.

“Disini lebih hangat kan, Lix ?”
“Iya hangat Ci, sedikit basah gitu”
“Coba lu masukin jarilu lebih dalam lagi ke situ, pelan-pelan aja”
Dua jadinya pelan-pelan memasuki liang kenikmatanku, melewati dinding yang bergerinjal-gerinjal.
“Sekarang coba lu gosokin daging kecil yang…ahhh !!” aku tak tahan untuk tak mendesah sebelum selesai menjelaskan karena sensasi yang ditimbulkannya, Felix sudah terlebih dulu mengepit benda itu diantara dua jarinya dan mengusap-usapnya
“Kenapa Ci ? sakit ?” tanyanya polos
“Nggak…enak terusin Lix, itu yang namanya klitoris, daerah rangsangan cewek, ayo gituin lagi !!”
Dia melanjutkan usapannya pada klitorisku dan semakin lama semakin nikmat. Mulutnya kembali mencaplok payudaraku. Aku menggelinjang keenakan dengan nafas makin memburu, tanganku mencengkram pundaknya dan membelai kepalanya.
“Oohh…yess…gitu, i like it…terus…terus !!” desahku sesekali menggigit bibir bawah.

Andani Citra Lukisan Bugilku Part 2

Singkat cerita, setelah selesai perkuliahan yaitu jam sebelas, aku mengikutinya ke kostnya, dari kampus kami jalan kaki sekitar sepuluh menit. Tidak banyak orang di sana, mungkin karena pada jam-jam seperti ini masih banyak yang kuliah, hanya nampak seorang anak muda sebagai pembantu, seorang ibu setengah baya yang juga pembantu dan dua orang penghuni kost lainnya yang semua pria. Kamar Felix bisa dibilang cukup rapi dibanding kamar pria pada umumnya, di dalam sebuah rak tersusun beberapa model robot rakitan dan patung-patung kecil tokoh anime, begitu juga di dindingnya tertempel poster-poster anime dan game.
“Typikal tukang gambar banget nih anak, kacamata dan anime maniac gini” kataku dalam hati sambil mengamati koleksi-koleksinya sementara dia sedang ke toilet.
“Ok, Ci bisa kita mulai ga ? Lu mau dilukis gimana ?” tanya Felix yang baru keluar dari toilet
“Oohh..iya tapi omong-omong lu bakal tegang ga kalo ngegambar pakai model nanti takutnya hasilnya jelek”
“Tegang ? ngga lah…emang kenapa harus tegang”
“Soalnya gua mau dilukis agak beda gitu loh”
“Bedanya gimana Ci ? kan lu cuma tinggal diam bergaya aja ya” tanyanya bingung
“Itu loh Lix, lu pernah nonton Titanic ga ? gua maunya digambar seperti itu tuh, gimana ?” jawabku dengan polosnya

Tentu saja dia langsung tercengang dengan permintaanku itu dan wajahnya memerah
“Hah…yang bener lu Ci, maksudlu bugil gitu ?”
“Hh-emm…wearing only this itu loh, gua yakin lu bisa kok” aku lalu melepaskan satu-satu kancing kemejaku dan memperlihatkan bra-ku
“Ci…lu serius nih, berani kaya gini ?” seakan tidak percaya apa yang dilihat di hadapannya.
Aku tertawa tertahan melihat reaksi amatirannya itu sambil terus melucuti satu demi satu pakaianku. Matanya seperti mau copot memandangku yang sudah telanjang di depannya, dari reaksinya aku yakin dia baru kali ini melihat perempuan bugil secara langsung.
“Nah…gimana Lix ? jangan tegang gitu dong, minum dulu aja deh”
Dia menerima gelas yang kusodorkan dan meminumnya lalu menarik nafas panjang
“Ok dah tenang kan, buktiin dong kalo lu profesional artist, masa ngeliat tubuh cewek aja nervous gitu hehehe” aku menenangkannya sambil tertawa kecil
“Ya tegang dong Ci, gua kan ga pernah gambar bugil sebelumnya” jawabnya terbata-bata, namun dia sudah lebih rileks dari yang tadi. Kulihat matanya tidak pernah lepas memandangi tubuhku
“Makanya lu harus cari pengalaman baru, supaya pandangan lu tambah luas”

“Gimana bisa kita mulai kan menggambarnya” kataku sambil membaringkan tubuh di ranjangnya
“Bentar Ci” sahutnya lalu mengunci pintu terlebih dulu “kalo ada yang masuk kan berabe”
“Posisi gini gimana ? bagus ga ?” aku berbaring menyamping dengan menopang kepalaku dengan tangan kanan ditekuk
“Kurang Ci, biasa aja, mending lu tumpuk itu bantal buat sandaran tangan terus duduk bersimpuh, kayanya lebih bagus” pintanya setelah mengamati sejenak.
“Gini ?” tanyaku mengikuti arahannya
“Ya, lebih tegak dikit Ci, ya gitu ok” aturnya
Dia duduk di kursi seberang ranjang sana memegang clipboard. Sebelum mulai dia minum dulu untuk menenangkan diri. Lewat lima menit, dia geleng-geleng kepala melihat kertasnya, lalu ditariknya kertas itu dan diremas-remas.
“Kenapa Lix ? gagal ?” tanyaku
“Sory Ci, belum biasa sih jadi ga bagus tadi, sekali lagi yah, sory ngerepotin”
“Ya udah, santai aja, lama-lama juga biasa kok”
Kali ini sepertinya dia sudah lebih enjoy melakukan aktivitasnya, tangannya bergerak dengan cepat diatas kertas, mengganti-ganti pensil, mengambil kapas dan penghapus, ibarat Leonardo yang melukis bugil Kate Winslet di film Titanic itu.

Andani Citra Lukisan Bugilku Part 1

Ini adalah pengalamanku tahun 2002 lalu yang ingin kubagikan pada para pembaca. Aku mempunyai seorang teman kuliah cowok bernama Felix. Sedikit gambaran tentang dirinya, tidak terlalu tinggi, hampir sepantaranku, berkacamata dan pipinya agak tembem dengan kulit sawo matang. Wajah sih tidak termasuk ganteng, malah cenderung culun apalagi dengan kacamata bingkai tebalnya itu. Sifatnya juga tertutup dan kuper, tidak biasa gaul dengan cewek, kalau bertemu di perpustakaan, kantin atau di areal kampus lainnya pasti sendirian atau minimal bersama 1-2 temannya yang cowok. Dia berasal dari Padang dan nge-kost di di sekitar kampus ini. Karakternya yang unik ini membuatku ingin mengerjainya, aku ingin tahu apa orang seintrovert itu akan luluh oleh godaan wanita penuh gairah sepertiku.

Dalam prestasi dia memang biasa-biasa saja, IPK-ku saja lebih tinggi darinya (bukannya sombong loh). Namun dia mempunyai sebuah bakat yang menonjol yaitu menggambar, terutama menggambar manusia dan gambar-gambar versi anime Jepang, wajah dan proporsi tubuhnya pas sekali, aku tahu hal ini karena seringkali kalau kuliahnya boring dia sembunyi-sembunyi menggores-goreskan pensil pada kertasnya, di organizernya juga terselip beberapa hasil karyanya. Pernah suatu kali saking asyiknya menggambar dia tidak sadar kalau si dosen sedang berjalan di dekatnya, dan mengambil kertasnya dan mengamat-amati gambarnya lalu berkata
“Wah..wah anda ini lagi jatuh cinta sama siapa ya, sampai dibawa-bawa ke gambar begini, siapa nih di sini yang rambut panjang dengan kucir ke belakang” sambil memperhatikan semua mahasiswi di kelas ini.
Kontan satu kelas termasuk aku tertawa-tawa dan saling menunjuk siapa yang di dalam gambar itu, wajahnya jadi memerah karenanya. Kalau saja dosennya killer pasti dia sudah dikotbahi macam-macam atau bisa juga disuruh keluar, untung Bu Yani (si dosen itu) tidak segarang itu, beliau cuma menyindir dan menegurnya namun beliau juga memuji gambarnya itu bagus.

Suatu hari pada mata kuliah American Culture and Institution yang dosennya ‘obat tidur’ aku duduk di belakang dan kebetulan dia juga di sebelahku sehingga bisa ngobrol dengannya dengan suara pelan.
“Biasa lu nge-gambar dapat ide dari mana aja Lix ?” tanyaku sambil melihat-lihat gambar-gambar di organizernya.
“Kebanyakan sih dari film atau foto-foto Ci, kalo lagi iseng ya gambar, enjoy gitu !”
“Eh…yang ini bagus nih, mirip aslinya, Vivian Hsu kan ?”
“Iya hehehe, modelnya langsung dari orang aslinya tuh” katanya sambil nyengir
“Ciee…mimpi kali yee !” balasku menyikutnya pelan
“Emang lu pernah pakai model asli untuk gambar-gambar lu Lix ?” tanyaku lagi
“Emmm…pernah sih dulu saudara gua, tapi kebanyakan sih gua ambil dari foto ya, abis susah kan cari model”
“Kalau menggambar sampai selesai gini habis waktu berapa lama kira-kira ?”
“Itu tergantung mood juga sih, tapi rata-rata sih setengah jam lah”
“Gini Lix, kalau gua jadi modellu boleh ga ? pengen sih sekali-sekali dilukis gitu, gimana ?” tawarku
“Wah, bener nih Ci ? thanks banget kalau lu mau, kapan nih ada waktu ?”
“Gua sih abis ini ga ada apa-apa lagi, lu sendiri gimana ?”
“Ooo…bagus kalau gitu di kost gua aja gimana ?” jawabnya antusias dengan tawaranku.

Wednesday, May 25, 2011

Skandal di Rumah Lisa PART 4

“Iya nih pak, di sini ada colokan listrik nggak yah? Saya mau charge HP.”

Lalu salah seorang pemuda, yang kelihatannya tukang asongan, menyahut:

“Ada non. Nih di sini ada colokan listrik.” pemuda yang usianya sekitar 26 thn yang berkaos kucel dan celana panjang jeans kumel itu, menunjuk pada sebuah stopkontak di dinding ruangan itu.

Satpam itu menyahut pula: “Iya non, silahkan colok di situ aja. Mari masuk aja. Nanti kalau sudah full, bapak anter ke dalam.”

“Ah nggak apa-apa pak. HPnya dicharge di sini aja yah?” Lisa dengan langkah sopan masuk ke ruangan satpam yang berukuran 4×5 m itu dan mulai mencharge HPnya.

“Wah seru yah bolanya?” Lisa mulai berdialog dengan mereka, supaya suasananya cair. “Iya nih, masih nol-nol. Mari non duduk ikut nonton.” seorang bapak yang mengenakan seragam parkir mempersilahkan Lisa duduk di bangku panjang yang di sebelahnya sudah ada seorang pemuda yang menggeser gitarnya.

Kelihatannya pemuda itu berprofesi sebagai pengamen.

“Iya pak terima kasih. Saya duduk di sini yah. Sambil tunggu baterenya penuh.”

Sejak Lisa masuk dan duduk, kelihatan sekali mata kelima lelaki itu lebih tertuju pada Lisa yang kelihatan seksi dan menggairahkan. Mereka memperhatikan sepasang pahanya yang indah itu, juga pundaknya yang meskipun ditutupi selendang tipis, tetap saja memperlihatkan keindahannya. Di dalam ruangan itu, juga kedengaran ungkapan-ungkapan kasar dari mereka mengomentari pertandingan final itu.

“Upssh maaf yah non, kata-kata kami kasar. Hehehe” kata satpam itu.

“Ahh nggak apa-apa koq, pak!” kata Lisa.

Lalu satu bapak lagi yang kelihatannya sebagai supir menyahut: “Iya nih, ada cewek cakep koq ngomong kasar sih!”

Lalu pengamen itu menimpali dengan ungkapan agak porno dan setengah becanda: “Yang halus kan biasanya suka yang kasar. Hehehehe. Apalagi non ini mulus banget. Hehehehe.”

“Aduh jangan begitu, Dul. Nanti non ini ketakutan” satpam itu mengingatkan si Duldul, pengamen jalanan itu.

“Oh yah non, nama saya Rojak, satpam di sini. Itu yang tadi godain non, namanya Duldul, pengamen yang paling jelek sedunia. Yang itu Sardil, tukang parkir di sini. Itu mang Ucek, tukang rokok keliling. Dan ini, Pak Midit, supir yang lagi nganterin majikannya nonton final” Pak Rojak memperkenalkan para lelaki yang ada di tempat itu.

“Saya Lisa pak” sahut Lisa memperkenalkan diri.

“Wah masih segar nih, non Lisa. Cantik, putih, mulus lagi. Hehehe.” Duldul kembali menggoda Lisa.

“Sini aku jewer kupingmu” Pak Rojak kemudian menjewer telinga Duldul.

“Aduh sakit!” Duldul berusaha menghindar dari jeweran bp Rojak, sehingga merundukkan kepalanya ke arah lantai. “woow. Mulus baget” rupanya Duldul sempat melihat paha mulus Lisa yang terbuka karena pakaian terusan yang dikenakan Lisa begitu pendek, bahkan celana dalam Lisa sempat diliriknya.

“Aah bang Duldul nakal nih. Dijitak aja pak” Lisa meminta bp Rojak menjitak Duldul.

“Ampun pak Rojak…tuh pahanya muluskan?” Duldul menunjuk pada paha Lisa yang terbuka indah. “Ampun non…hehehe” Duldul dengan bercanda memohon kepada Lisa.

Tetapi matanya terus terarah ke paha Lisa yang terbuka itu.

“Ihh nakal nih” Lisa sengaja menampilkan wajah cemberutnya dan membetulkan posisi duduknya.

Pak Sardil kemudian menyahut: “Nggak takut masuk angin, non. Pakai baju seperti ini?”

“Iya nih, pak. Kepala terasa pening juga. Pundak rasanya pegel. Masuk angin kali yah!” ungkap Lisa.

“Kalo masuk angin, mesti dipijit tuh, biar anginnya keluar” kata Pak Midit.

Mang Ucek ikut menimpali: “Biasanya si Duldul yang sering pijitin kita di sini. Ayo Dul, pijitin si non!”

“Bener nih? bang Duldul. Pijitin dong” ujar Lisa yang sudah mulai berani.

“Ok non, sini saya pijitin deh.”

Lisa kemudian menggeser duduknya dan membuka selendangnya, sehingga pundaknya yang putih mulus terpampang bebas di hadapan Duldul.

“Wah, mulus banget nih. Saya pijit yah.”

“Iya bang, pijitin yah” Lisa mempersilahkan Duldul memijatnya.

Bergetar perasaan Lisa ketika telapak tangan yang kasar Duldul, si pengamen jalanan itu, mulai mengelus dan meraba pundaknya yang terbuka itu. Duldul mulai memijati pundak dan lehernya yang indah itu.

“Yang lain jangan ngiri yah. Disuruh mijit semalaman juga mau, kalau yang dipijit non ini” Duldul menggoda ke empat lelaki lainnya.

“Wah kalo gitu, saya juga mau pijitin si non ah.”

“Saya juga.” Keempat orang itu serentak berebut mau memijati Lisa yang cantik dan sexy itu.

“Kalo gitu pijitnya di bawah aja. Nih saya gelar tiker. Mari non, kami pijitin” Pak Rojak tiba-tiba menggelar tiker di dalam ruangan itu, kemudian merapatkan kain penutup jendela itu.

Melihat hasrat keempat lelaki lain yang mau memijatinya, akhirnya Lisa mempersilahkan mereka memijati dirinya dengan senyum menggoda. Lalu ia membaringkan tubuhnya tengkurap di tikar itu, dan dengan seketika tubuh seksinya mulai dikerubungi oleh kelima lelaki itu. Perhatian mereka tidak lagi ke pertandingan seru di layar tv, tetapi ke tubuh Lisa yang sudah tengkurap. Duldul memijati lengan kiri sampai ke pundaknya. Pak Rojak juga melakukan hal yang sama di lengan kiri Lisa dan pundaknya. Pak Sardil memijati betis kiri sampai ke pahanya. Mang Ucek memijati betis sebelah kanan, terus ke paha indah itu. Sedangkan Pak Midit memijati punggungnya yang masih tertutup pakaian. Pria itu protes karena tidak bisa langsung memijati langsung kulit mulus Lisa seperti temannya yang lain.

Akhirnya Duldul yang paling berani itu dengan nekad menganjurkan Lisa untuk melepas pakaiannya, supaya mudah dipijati. Keempat lelaki yang lain juga menyetujui hal itu. Awalnya Lisa menolak, tetapi, perlahan-lahan Lisa mau mengikuti permintaan mereka. Apalagi ketika ia terangsang berat mengingat teman-temannya tadi siang melakukan pesta seks dengan satpam dan para penjual di depan sekolah. Akhirnya muncul hasrat liar Lisa untuk merasakan bagaimana nikmatnya di gangbang oleh kelima lelaki kasar itu.

“Oke siapa takut?” kemudian Lisa berdiri dan perlahan-lahan dibukanya pakaian yang melekat ditubuhnya.

Kelima lelaki itu begitu kagum menatap wajah Lisa yang begitu putih, bersih dan indah itu. Karena Lisa tidak lagi mengenakan bh, maka ketika pakaian itu dilepaskan dari tubuhnya, terpampanglah sepasang payudara yang indah itu. Dengan sedikit malu, Lisa menutupi puting payudaranya, dan ia kembali rebahan untuk dipijati oleh mereka dengan hanya mengenakan celana dalam yang mini. Dengan penuh nafsu, mereka memijati tubuh telanjang Lisa, tampak jari-jari tangan mereka begitu liar mengelus dan meremasnya. Mang Ucek yang mendapat jatah memijat betis dan paha Lisa tiba-tiba tanpa ijin dari Lisa, menarik lepas cd yang dikenakan gadis itu:

“Celana dalamnya, saya lepas yah non.”

Akhirnya terlepaslah pakaian terakhir yang tersisa itu sehingga membuat para pemijat itu tambah nafsu.

“Ah. Malu nih, masa Lisa jadi bugil begini” Lisa memprotes tindakan mang Ucek itu malu-malu kucing.

Tetapi mereka tidak menggubris protes Lisa, bahkan mereka memuji tubuh bugil Lisa yang begitu mulus, putih dan bersih itu dan terus memijatnya.

“Ayo non, sekarang bagian depan yang dipijat. Masa yang belakang terus” Pak Sardil meminta Lisa untuk berbalik.

“Iya non, ayo balik” ungkap mereka juga.

Akhirnya dengan agak malu-malu, Lisa membalikkan tubuh bugilnya sambil menutupi sepasang payudaranya dengan lengan kiri dan menutupi bulu kemaluan dan vaginanya dengan telapak tangan kanannya. Betapa merah muka Lisa, karena dia nekad bugil di hadapan kelima lelaki kasar yang tidak pernah dikenalnya.

“Sudah non, tubuh indah begini jangan ditutupi dong” kata Pak Midit sambil mengangkat tangan kiri Lisa, sehingga payudara dengan puting yang indah  itu terpampang bebas.

Lalu Pak Rojak menarik lengan kanan Lisa yang menutupi kemaluannya itu. Kedua tangan Lisa ditarik ke arah kepala Lisa oleh mang Ucek, sehingga tubuh bugil Lisa yang begitu putih mulus itu terbuka di hadapan mereka. Mereka melotot dan ngiler mengagumi payudara Lisa yang ranum dan montok itu dan vagina yang dihiasi bulu kemaluan yang lebat itu.

“Gila, cantik dan seksi sekali nih amoy. Bisa pesta deh kita!!” kata si Duldul.

“Jangan ah. Jangan. Lisa malu” kata Lisa malu-malu.

“Kenapa malu non?” kata Pak Rojak kepada Lisa.

Tampak tangan-tangan yang kasar dan hitam itu mulai meremasi payudara dan mengelus perut dan bulu kemaluan gadis itu.

“Eggghh… Habis pada curang. Masa cuma Lisa yang bugil” tantang Lisa yang menghendaki agar mereka juga telanjang.

Mendengar ungkapan Lisa, dengan segera Duldul, Ucek dan Pak Sardil melepas kaosnya, sedangkan Pak Rojak dan Pak Midit melepas celana panjangnya. Setelah itu dengan segara, mereka menyerbu tubuh mulus Lisa yang bugil itu. Mereka tidak memijati Lisa, tetapi menggerayangi tubuh mulus itu. Pak Rojak langsung menciumi payudara Lisa sebelah kiri sambil mengemut putingnya. Hal yang sama dilakukan oleh Ucek pada payudara sebelah kanannya. Pak Midit langsung membuka paha Lisa dan menciumi vagina Lisa. Pak Sardil mengelusi perut langsing dan bening itu serta menjambak bulu kemaluan Lisa. Duldul langsung mendaratkan mulutnya ke mulut Lisa dan menciuminya penuh nafsu. Perbuatan mereka membuat Lisa kaget sekaligus terkejut, dan mampu membuatnya mendesah-desah penuh nikmat. Tubuh Lisa tampak menggelinjang penuh nikmat karena dikerjai oleh kelima lelaki kasar itu. Puas menciumi bibir dan mulut Lisa, Duldul melepaskan celana dan cdnya hingga bugil, lalu mengangkangi tubuh Lisa dan mengarahkan penisnya yang hitam, besar dan panjang itu ke bibir kemaluan Lisa. Pak Midit berganti posisi, setelah dia membuka cdnya, diarahkannya penisnya yang besar dan panjang itu ke mulut Lisa untuk disepong.

“Saya entot dulu yah” Duldul langsung memasukkan penisnya dan dengan kencang dimasukkannya ke dalam liang vagina Lisa.

Kemudian dengan penuh nafsu, Duldul mulai mengenjot vagina Lisa.

“Eeggghhhh…” Lisa mulai mengerang tetapi agak tersendat karena mulutnya terisi penuh oleh penis Pak Midit.

Pak Sardil sedang asyik mengisap puting payudara kanan Lisa, sedangkan Pak Rojak masih asyik menyusu di puting payudara sebelah kiri. Mang Ucek lalu menarik tangan Lisa dan memintanya untuk mengocok penisnya. Malam ini, menjadi malam yang penuh kenangan karena baru kali ini dia dikerubuti oleh lima lelaki yang sama sekali belum dikenalnya dan dari kalangan bawah. Mereka lalu mengajak Lisa mengganti posisi. Mang Ucek rebahan di atas tikar itu dengan penis yang mengacung ke atas. Lisa yang berada di atas, mengarahkan penis itu ke dalam kemaluannya.

“Eeggghhh” terdengar kembali erangan Lisa ketika penis Ucek yang tidak kalah besar itu masuk ke liang senggama Lisa.

Sambil terus di pompa oleh Ucek, Pak Rojak memasukkan penisnya ke dalam mulut Lisa. Sementara Midit terus menciumi dan menyedoti payudara Lisa sebelah kanan dengan begitu rakusnya. Duldul terus memberi cupangan di sekitar payudara kiri Lisa. Pak Sardil menuju pantat Lisa yang sekal itu lalu diciuminya penuh nafsu. Tidak cukup sampai disitu, lalu Pak Sardil mengarahkan penisnya ke lubang anus Lisa, dan masuklah perlahan-lahan penis itu mendobrak anus Lisa yang masih perawan itu.

“Eeeggghhh… Aaggsshhh…” kembali Lisa mengerang penuh nikmat, dan sudah dua kali ia mencapai klimaksnya.

“Ooggh enak sekali memek non Lisa” ungkap Ucek.

“Iya, boolnya juga sempit. Egghhh” ungkap Pak Sardil juga.

Lisa kelihatan meringis agak perih karena lubang anusnya dimasukki oleh penis yang besar itu. Tetapi lama-lama akhirnya ia menikmati sodomi itu. Beberapa lama kemudian mereka berganti posisi lagi. Kini Pak Sardil yang rebahan dan mengarahkan penisnya yang paling hitam di antara mereka ke liang vagina Lisa. Perlahan-lahan penis itu membelah vagina Lisa.

“Egghhsss aauuhh” kembali Lisa mengerang penuh nikmat ketika vaginanya diterobos dan dipompa oleh penis hitam itu.

Lalu Pak Rojak mengarahkan penisnya yang juga besar itu ke arah lubang anus Lisa dan didorongnya dengan kasar, membuat Lisa menjerit.

“Aaaahhhggghhh”

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Mang Ucek mengarahkan batang penisnya ke mulut Lisa untuk disepong. Sedangkan Duldul dan Pak Midit asyik menciumi, menyedot dan menyupangi sepasang payudara Lisa dan sekujur tubuhnya sehingga tampak merah-merah bekas cupangan pada payudara dan sebagian perut Lisa yang mulus itu. Akhirnya setelah satu jam lebih mereka menyetubuhi Lisa secara beramai-ramai, tibalah saatnya untuk menyemprot sperma mereka. Kembali mereka merebahkan Lisa di tikar, Duldul dan Pak Midit mengocok batang penisnya ke arah muka Lisa. Sedangkan Pak Rojak, Pak Sardil dan Ucek mengocoknya ke arah payudara Lisa. Dan tidak lama kemudian. Crooottt…ccrroott…ccrrooot.

“Eeggghhh…ooohhh”

Berkali-kali sperma kelima lelaki yang kental dan banyak itu menyemprot dan tumpah di wajah dan payudara Lisa. Lisa sendiri sudah mengalami 6x orgasme pada saat itu. Pagi dini hari itu, Lisa menikmati mandi sperma. Nikmat sekali kelima lelaki itu karena bisa menikmati Lisa yang cantik, putih, bening dan seksi itu. Sedangkan Lisa, juga tampak begitu nikmat dalam birahinya, karena bisa menikmati 5 penis yang besar, panjang dan keras. Kemudian mereka mengelusi muka dan sepasang payudara Lisa dengan sperma mereka. Mereka nampak lemas sekali karena tenggelam dalam nafsu birahi yang baru saja mereka tuntaskan. Tak terasa sekitar 12 menit lagi pertandingan final itu hampir selesai, dengan kedudukan 1-0 untuk Spanyol. Maka Lisa buru-buru berdiri dan membersihkan mukanya yang lengket oleh sperma di wastafel yang butut itu, lalu mengenakan pakaiannya. Ketika Lisa akan memungut cdnya, tiba-tiba Duldul mengambil cd itu dan mengantonginya sebagai kenang-kenangan.

“Buat saya aja yah non. Kapan-kapan kita ngewe lagi yuk?” goda Duldul ke Lisa.

“Iya deh ambil saja” Lisa tersenyum pada mereka dan dengan langkah gontai meninggalkan ruangan itu setelah mengambil HP dan alat chargernya.

Di dalam Lisa menemui Hans yang tampak asyik menonton sepak bola. Ia nampaknya larut dalam euphoria sepak bola sampai tidak peduli pacarnya lama meninggalkannya dan sedang digangbang orang lain. Tak lama kemudian pertandingan itu usai, dan Spanyol yang keluar sebagai juara dunia. Lalu Hans dan Lisa bergandengan tangan meninggalkan caffe itu dan berjalan menuju mobil Hans untuk pulang. Ketika sudah sampai di dalam mobil, Hans mengajak Lisa untuk bercinta sejenak, tetapi Lisa menolaknya dengan alasan sudah ngantuk sekali. Lisa nggak berani melakukan hubungan seks dengan Hans saat itu, karena badannya masih lengket dengan sperma dan tidak mengenakan cd. Lisa khawatir Hans curiga padanya, tetapi sebagai gantinya Lisa bersedia melakukan oral seks terhadapnaya. Maka Lisa membuka restleting celana Hans, mengeluarkan penisnya dan menyepongnya. Untungnya hanya sekitar 10 menitan Hans sudah mencapai orgasmenya dan Lisa menelan sperma Hans kemudian hans pun menstarter mobilnya meninggalkan tempat parkir. Di pintu gerbang itu Lisa berjumpa dengan pak satpam, tukang parkir dan dua orang tukang yang tadi sudah menyetubuhinya. Mereka tampak tersenyum kepada Lisa dan Lisa pun tersenyum pada mereka

“Siapa tuh? Senyum-senyum ke lu gitu?” tanya Hans.

“Itu…gua kan tadi nge-charge hp di pos satpam pas mereka juga di sana gitu” jawab Lisa

“Ooohh…gitu” Hans menanggapinya santai dan menyetir mobilnya

-TAMAT-

Skandal di Rumah Lisa PART 3

Akhirnya muncul niat liar dari dalam dirinya, ia ingin sekali merasakan pesta sex liar itu, di mana dirinya dikerubungi oleh beberapa lelaki kasar bertubuh kekar dan berpenis besar silih bergantian menyetubuhinya dengan penuh nafsu. Tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar, ia menarik nafas lega karena untungnya ponsel itu hanya diaktifkan vibrate mode, kalau ringtonenya juga aktif tentu sudah terdengar oleh mereka yang di dalam sana. Penelepon itu tidak lain Cathy yang telah tiba di depan sekolah. Setelah dirasa sudah cukup menyaksikan kegilaan pesta birahi itu, Lisa bergegas meninggalkan tempat itu menuju mobilnya. Seperti yang telah diduga, ketika Lisa sudah sampai di depan tempat parkir, dia melihat Cathy yang juga baru tiba. Lisa kemudian menemui Cathy dan menyerahkan baju yang agak kekecilan itu dan Cathy menyerahkan kepada Lisa baju yang lebih besar. Mereka berbincang sejenak dan akhirnya pergi dengan mobilnya masing-masing. Siang ini Lisa mau mengunjungi Hans di rumahnya dan mereka sudah janjian mau makan bakso di sekitar perumahan di mana Hans tinggal di daerah Pondok Indah. Syukurlah siang ini perjalanan menuju rumah Hans tidak begitu macet. Biarpun demikian, Lisa merasa lelah juga karena nyetir sendiri ditambah lagi dengan aktivitas seks yang dia lakukan bersama bang Said di rumahnya. Lisa berharap Hans sudah pulang dari kuliahnya, sehingga dia bisa nyantai sambil tiduran di kamar tidur Hans. Orang tua Hans sangat sayang kepada Lisa, selain karena kecantikannya juga karena Lisa anak seorang kaya yang selevel tingkat ekonomi dan sosialnya. Bahkan, untuk mempersiapkan masa depan Hans dan Lisa bila sudah berkeluarga kelak, orang tua Hans sudah memberikan hadiah sebuah rumah mewah untuk mereka tempati berdua di daerah permahan elit Kelapa Gading. Hans adalah putra bungsu dari 3 bersaudara. Kakaknya yang pertama bernama Felly, berusia 29 tahun, sudah berkeluarga, punya 3 anak dan tinggal di Australia, karena ikut suaminya yang mendapat pekerjaan sebagai peneliti ahli sebuah bank. Kakaknya yang kedua bernama Anton, berusia 27 tahun, baru sekitar 2 tahun lalu menikah, sudah punya 1 anak, dan kini tinggal di Singapore. Anton bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit ternama di Singapore. Dan anak ketiga adalah Hans yang berusia 24 tahun, mahasiswa kedokteran tingkat akhir di sebuah universitas terkenal di Jakarta Barat. Boleh dibilang, keluarga Hans adalah keluarga yang sukses dan mapan. Sesampainya di rumah Hans, Lisa disambut oleh seorang pesuruh rumah Hans, yakni Pak Kobar yang berusia 51 tahun. Rumah itu begitu sepi, karena papanya Hans masih di bekerja di pabrik percetakan miliknya sendiri, sedangkan ibunya sedang jalan-jalan ke mall dengan teman-temannya. Hans sendiri belum pulang, karena mendadak diminta menggantikan dosen yang berhalangan masuk untuk memberi kuliah parasitologi di fakultas kedokteran tempatnya kuliah. Hans adalah anak yang cerdas, karena itu dia dipercaya menjadi asisten dosen dan kerapkali menggantikan dosen yang berhalangan hadir.

Sambil menunggu kepulangan Hans, Lisa menyetel tv yang terletak di ruang keluarga itu lalu duduk santai. Dengan remote tv yang dipegangnya, Lisa mencari-cari saluran yang menarik dan enak ditonton. Akhirnya, dia menemukan saluran yang disenanginya, yakni chanel musik. Sambil duduk santai, Lisa menonton acara kesukaannya. Karena suasananya santai, lama kelamaan Lisa merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di sofa empuk itu. Saat itu, Pak Kobar yang kebetulan mau membereskan, menyapu dan mengepel di ruangan itu agak terkejut juga menyaksikan Lisa yang tertidur santai. Pria setengah baya itu tertegun melihat posisi tidur Lisa yang begitu seksi. Rok mininya tersingkap ke atas sehingga sepasang pahanya yang montok, mulus dan putih itu terpampang bebas, bahkan celana dalam yang berwarna kuning muda itu dapat dilihat dengan jelas oleh bp Kobar. Kaosnya yang agak pendek tersingkap dan memperlihatkan sebagian perut Lisa dan pusarnya yang seksi dan menggemaskan itu. Karena situasi rumah yang sepi, dan melihat pemandangan yang begitu seksi itu, timbullah niat liar Pak Kobar untuk menikmati tubuh Lisa yang indah dan menantang. Perlahan-lahan ia mendekati Lisa dan dipandanginya paha mulus yang bening itu. Samar-samar Pak Kobar bisa melihat bayangan bulu kemaluan Lisa yang menerawang dibalik cdnya yang tipis itu. Mula-mula dielusnya betis yang mulus itu, kemudian perlahan naik sampai ke pahanya dan dengan lembut diremasnya paha yang mulus itu. Betapa halusnya betis dan paha itu, sehingga membuatnya semakin bernafsu untuk terus merabanya sampai ke selangkangannya. Tidak puas hanya meraba paha Lisa yang mulus itu, Pak Kobar lalu dengan lengan kirinya mengelus perut Lisa yang langsing, mulus dan putih bening itu. Kini lengan pria itu sampai ke tempat yang paling rahasia milik Lisa, tangan kanannya mulai masuk menyelusuri selangkangan Lisa dan mulai menyingkap celana dalamnya, lalu jari-jarinya menyentuh bibir kemaluan Lisa. Sedangkan telapak tangan kirinya terus merambat dan masuk ke dalam bh, dielusnya payudara Lisa yang masih terbungkus bh dan mengelus putingnya. Tiba-tiba Lisa tersadar dari tidurnya.

“Aaahh…Pak Kobar… Apa-apaan ini? Jangan kurang ajar yah! Sana pergi!” Lisa kaget dan menghardik bp Kobar, tetapi pria itu sama sekali tidak digubrisnya hardikan Lisa, bahkan ia menindih tubuh Lisa dengan tubuhnya yang kekar, jarinya sengaja di masukkannya ke dalam kemaluan Lisa lalu dirogohnya vagina itu, sedang tangan yang satu lagi meremas dengan keras payudara gadis itu.

“Eggghhh. Jangan pak Kobar. Kurang ajar! Nanti saya laporkan ke majikan kamu!”

Mendengar ancaman itu, Pak Kobar malah balik mengancam: “Silahkan dilaporkan ke tuan dan nyonya, laporkan saja! Bapak juga akan melaporkan non Lisa yang kalau ke sini sering ngentot ama tuan Hans. Saya juga akan laporkan hal ini ke orang tua non.”

Rupanya Pak Kobar tahu persis dan sering mengintip Lisa dan Hans saat sedang bersetubuh di kamar Hans, apalagi bila situasi rumah sedang sepi. Kata-kata Pak Kobar membuat Lisa terkejut dan gentar juga, bila ia benar-benar melaporkan itu semua ke orang tua mereka masing-masing tentu orang tua mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius akan terkejut mendengar hal itu dan akibatnya, Lisa dan Hans bisa dikucilkan oleh keluarga mereka.

“Bapak akan tutup mulut, kalau non Lisa mau memberi jatah ke saya.”

“Aduh, kaya gini dong Pak” tolak Lisa sambil menepis rabaan liar dari tangan Pak Kobar.

Tetapi, pria itu terus melakukan aksi nekadnya dengan memasukkan jari tengahnya makin dalam dan menyentuh klitoris di dalam vagina Lisa. Sedangkan payudara Lisa juga diremas dengan liar dan putingnya dijepit dengan jari jemari Pak Kobar. Apalagi pria itu mulai mendekatkan bibirnya yang dower itu ke bibir Lisa yang mungil dan memaksa untuk mencium bibir Lisa.

“Egghh jangan Pak! Jangan…” Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghindari ciuman pria itu, namun Pak Kobar mengetahui, bahwa Lisa juga menikmati perlakuan liar itu dari vaginanya yang mulai semakin becek dan puting payudaranya mulai mengeras.

Awalnya Lisa menolak bibir Pak Kobar yang tertuju ke bibirnya, tetapi karena terus didesak, perlahan-lahan ia tidak bisa menolak paksaan itu. Beberapa kali bibir Pak Kobar tidak bisa mendarat dengan sempurna ke bibir Lisa, tetapi akhirnya karena terus dipaksa, bibir itu bisa menyentuh bibir Lisa. Mula-mula ciuman itu biasa saja, tetapi karena terus didesak dan ditambah lagi dengan rangsangan dari rabaan liar di bagian sensitif tubuhnya, akhirnya Lisa pasrah dan menerima ciuman liar itu.

“Eeeuuugghh Pak… Ahh!!” Lisa mulai mendesah.

“Kenapa non? Nafsu yah?” Pak Kobar menggoda Lisa yang mulai pasrah atas pelecehan yang dilakukannya.

Bahkan Lisa sudah berani menerima dan membalas ciuman Pak Kobar sehingga mulut mereka sudah berpagutan dengan mesra dan lidah mereka kini saling berpautan erat. Lisa pun tampak pasrah, ketika Pak Kobar melolosi kaos yang dikenakannya, bahkan ketika meraih kaitan bh di bagian punggungnya, Lisa mengangkat sedikit tubuhnya supaya pria itu bisa membuka bhnya. Mata Pak Kobar begitu takjub memandang payudara Lisa yang terpampang bebas itu. Lalu tiba-tiba, diciumnya dan dijilati dengan penuh nafsu puting payudara yang montok itu. Bahkan, Lisa melenguh penuh nafsu ketika mulut Bp Kobar menyedot dan menggigit liar dan penuh nafsu puting payudaranya

“Eeessshhh… Ooougghh paakkk Koobbaarr. Eeehhhsss…”

“Enak yah non?” pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan malu tapi mau oleh Lisa.

“Hehehe, tenang aja non. Bapak jago koq dalam hal ngentot mengentot. Non Felly saja ketagihan sama genjotan kontol bapak. Wah sudah nggak kehitung deh berapa kali bapak ngentot dengan non Felly. Bahkan hehehe…anaknya yang ketiga mirip saya kan. Hehehe.”

Betapa kagetnya Lisa mendengar pengakuan Pak Kobar, ternyata ci Felly, kakaknya Hans, terlibat skandal juga dengan Pak Kobar sampai punya anak segala. Pantas saja anak yang ketiga itu beda dengan ayahnya, apalagi bibir anak itu juga agak dower seperti bibir Pak Kobar. Tindakan Pak Kobar sudah semakin liar, dia sudah merenggut dan melepas cd Lisa dan membukanya pahanya lebar-lebar sehingga vaginanya terbuka jelas. Betapa nafsunya Pak Kobar melihat vagina Lisa yang mungil itu dan diciuminya dengan penuh nafsu. Hal itu membuat Lisa tambah mengerang penuh geli dan nikmat. Puas menciumi vagina itu, pria itu membuka celananya dan sekaligus melepaskan celana dalamnya, sehingga batang penisnya yang sudah sangat tegang dan keras itu mengacung besar dan panjang. Disingkapnya rok itu lebih ke atas, agar lubang vagina Lisa semakin terbuka dan tidak terhalang oleh rok mini itu. Kemudian diarahkannya penis besar yang berurat itu ke lubang vagina Lisa. Perlahan-lahan penis yang besar itu mulai menerobos masuk ke liang vagina Lisa. Dan…

“Egghhhh peellaann…pellaann pak…aaagghh.” demikian erangan Lisa ketika vaginanya dijejali oleh penis itu. “Oogghhh…” Lisa mengerang makin kencang ketika penis itu masuk sepenuhnya ke dalam liang vaginanyaa.

“Eegghh. Memek non Lisa masih rapet dan seret, lebih enak daripada memek non Felly…eessshhh.” ceracau Pak Kobar sambil mulai menggerakkan penisnya

Lisa berpikir dalam hati, dengan kelihaian Pak Kobar memainkan nafsu wanita dan penisnya yang perkasa itu pasti ci Felly merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian dengan penuh nafsu, Pak Kobar menyodok vagina Lisa dengan penisnya dan memompanya dengan liar. Perlakuan kasar dan penuh nafsu itu, membuahkan perasaan nikmat yang luar biasa dalam diri Lisa. Pak Kobar membenamkan penisnya dan menggoyangkannya penuh semangat. Lisa mulai menyambutnya dengan memutar pantatnya, sehingga Pak Kobar merasa kalau penisnya bagai diurut dan diremas di dalam vagina Lisa. Akhirnya mereka berdua berpacu menikmati persetubuhan itu dan saling melampiaskan nafsu birahi mereka. Kocokan penis Pak Kobar makin lama makin liar di dalam vagina Lisa. Setelah 30 menit persetubuhan itu berlangsung, Pak Kobar sudah menunjukkan tanda-tanda akan menyemprotkan spermanya.

“Aghh bapak keluarin di dalam yah…eeegghhh.”

Tak lama kemudian, bp Kobar menyemprotkan spermanya yang begitu kental di dalam rahim Lisa….crrrooottt…crrrooottt…crrooott…

“Eeegghhh…” Pak Kobar mengejang melepaskan nafsu birahinya.

Lisa pun ikut mengejang turut mencapai klimaksnya “Aaggghhhh…”

Beberapa menit mereka terhempas dan luapan birahi yang begitu nikmat. Itulah kenikmatan yang dialami oleh Pak Kobar dan Lisa di rumah Hans, kekasih Lisa. Mereka buru-buru menyelesaikan persetubuhan liar yang penuh gairah itu. Setelah itu, Lisa membersihkan tubuhnya di kamar mandi Hans dari sisa-sisa persetubuhan itu. Untunglah persetubuhan siang itu berakhir, karena sekitar 15 menit kemudian Hans pulang. Dengan senyum yang manis dan memberi ciuman mesra, Lisa yang cantik itu menyambut Hans yang ganteng. Betapa mesranya mereka berdua, dan kemudian mereka berbincang-bincang untuk mengatur rencana nanti malam. Mereka setuju untuk menonton pertandingan final Wordcup dini hari di sebuah caffe di wilayah Senayan, dan Hans akan menjemput Lisa sekitar pk 9.30 nanti malam. Setelah berbincang sejenak, mereka berangkat makan bakso bersama di daerah Pondok Indah di dekat rumah Hans. Setelah selesai menyantap bakso itu, Hans mengantar Lisa ke mobilnya dan Lisa pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sesampainya di rumah, Lisa masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Sungguh hari yang melelahkan karena pengalaman seks yang terjadi atas dirinya. Sore hari itu Lisa tertidur begitu nyenyak di kamarnya. Sekitar pk 8.30 malam, Lisa bangun dan mengisi perutnya dengan makan roti dan minum susu rendah lemak kesukaannya. Setelah makan dan minum, Lisa membersihkan dirinya di kamar mandi. Malam ini, Lisa ingin tampil secantik mungkin di hadapan Hans. Lisa mengenakan pakaian yang agak seksi yang baru didapatkannya dari Cathy tadi siang, pakaian itu begitu pas di tubuhnya. Pakaian yang berbahan seperti kaos itu memperlihatkan pundak putih dan mulus Lisa yang terbuka bebas. Di bagian dadanya ada kap sebagai penganti bra untuk menyanggah payudara. Karena itu, Lisa tidak perlu menggunakan bh lagi. Panjang bagian bawahnya mengantung sekitar 20 cm di atas lutut, sehingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu. Pakaian yang dikenakan Lisa, pasti mengundang tatapan siapa saja yang melihatnya. Untuk menghndari hawa dingin yang menerpa pundaknya, Lisa mengenakan selendang transparan yang tetap memperlihatkan kemulusan pundak dan sebagian punggungnya yang terbuka. Tepat pukul 9.30 Hans sudah tiba untuk menjemputnya. Setelah ngobrol sebentar basa-basi dengan orang tua Lisa, mereka berpamitan meninggalkan rumah yang mewah itu menuju Caffe yang akan mereka tuju. Betapa Hans kagum akan kecantikan dan keseksian Lisa malam hari itu. Sesampainya di caffe itu, mereka memesan snack dan dua cangkir kopi hangat. Karena acara pertandingan final belum mulai, para penonton disuguhi oleh beberapa dance dan lagu serta acara lainnya yang menarik. Sambil menunggu siaran langsung itu, tampak sekali Lisa dan Hans mesra berbicara, beberapa kali mereka saling ciuman dan bibir mereka saling berpagutan mesra. Tak terasa juga, akhirnya pertandingan final siap dimulai. Para penonton sudah tidak sabar akan pertandingan yang pasti seru dan mendebarkan itu. Beberapa saat setelah pertandingan itu dimulai, Lisa sudah gelisah, karena sebenarnya dia kurang menyukai sepak bola, selain itu batere HPnya sudah sangat low batt. Rupanya Lisa lupa men-charge HPnya di rumah karena tadi keenakan tidur.  Lisa memang sengaja membawa alat chargernya, tetapi tertinggal di dalam mobil Hans. Maka ia mengajak Hans untuk menemaninya ke mobil untuk mengambil alat charger itu, tetapi Hans menolaknya karena sedang asyik nonton acara final itu.

Akhirnya Hans lebih meminta Lisa untuk mengambilnya sendiri di mobil. Sebenarnya Lisa kesal juga karena Hans tidak mau menemaninya ke mobil, tetapi mau bagaimana lagi. Akhirnya Lisa pergi sendiri ke tempat parkir di mana mobil Hans berada. Kini ia sudah mendapatkan alat charger itu dan ia pun mulai berpikir di mana tempat yang enak untuk mencharge HPnya. Sedang enak-enaknya berpikir, Lisa melewati sebuah ruangan yang kelihatannya agak ramai. Rupanya Lisa melewati kantor satpam, dan di dalamnya ada lima orang yang sedang asyik menonton pertandingan final. Ketika Lisa melewati pintu kantor itu, dia celingak celinguk ke dalam kantor itu.

“Selamat malam non, ada yang bisa dibantu?” seorang satpam kemudian bertanya kepadanya.

Skandal di Rumah Lisa PART 2

“Bang Said nakal ih, hayo tutup matanya!” sambil berkata demikian Lisa merapatkan tubuh bugilnya ke Said dan menutup mata Said, dengan telapak tangannya.

“Aduh non nggak kelihatan nih!” Said berlagak memprotes tindakan Lisa sambil pura-pura merentangkan tangannya meraba apa yang ada di depan.

Karena matanya ditutup oleh tangan Lisa, dan juga sengaja pura-pura, lengan Said menyenggol tubuh mulus Lisa dan menyentuh payudara Lisa.

“Aw…cunihin ih…pegang-pegang, nanti Lisa telanjangin lho!”

Mendapat ancaman seperti itu, Said menjadi lebih nakal lagi, lalu dia memilin puting payudara Lisa dan tangan yang satu lagi tiba-tiba meraba bulu kemaluan Lisa dan jari itu bergesekan dengan kelamin Lisa.

“Aow nakal yah. Awas ya Bang, Lisa laporin ntar!”

“Saya siap dihukum sama non Lisa. Nih telanjangin deh” ungkap Said sambil memasrahkan dirinya untuk ditelanjangi oleh Lisa yang cantik dan molek itu.

“Auoww non pelan-pelan dong, copot nih kontol abang!” rupanya dengan nakal Lisa meremas penis bang Said dan menariknya.

“Hehehe tapi enak kan, bang?”

Lisa melepaskan kaitan celana pendek bang Said dan diturunkannya celana pendek yang kusam itu berbarengan dengan cdnya. Kini bang Said sudah polos di bagian bawahnya, nampak penis yang hitam itu sudah mengeras dan kencang sekali.

“Karena bang Said nakal, kontolnya Lisa tarik nih” Lisa menggenggam batang penis itu dan meremasnya.

Kali ini Said tidak mau kalah, ia pun meraba dan meremas puting payudara Lisa, sehingga gadis itu merasa geli

“ouww nakal yah, hayo angkat tangannya ke atas.” Said mengikuti perkataan Lisa, dan dengan segera Lisa mengangkat kaos yang dekil itu dan melucutinya lepas dari tubuhnya yang padat dan kekar itu.

Kini tubuh kedua manusia itu sudah polos total. Said terpana melihat keindahan tubuh muda dan segar, indah dan mulus milik Lisa yang cantik itu. Sedangkan Lisa, begitu kagum akan besarnya batang penis Said yang sudah berdiri tegak dan kencang itu. Kemudian Lisa menarik tangan Said dan menggiringnya menuju ranjangnya. Lisa sudah berbaring pasrah di atas ranjangnya, membuka pahanya lebar-lebar dan merentangkan tangannya. Said sangat bernafsu dan tergiur akan keindahan tubuh bugil Lisa yang siap untuk dinikmati. Tanpa ragu lagi Said naik ke atas ranjang itu dan menindih tubuh Lisa yang bugil. Tubuh mereka kini sudah melekat erat, bibir mereka sudah berpagutan mesra. Mereka berguling-gulingan penuh luapan birahi di atas ranjang itu. Tangan Said terus meremasi lekuk tubuh bugil Lisa yang indah, mempermainkan payudara yang montok dan mengelus bibir vagina Lisa. Sedangkan Lisa terus meremasi batang penis besar dan tegak serta mengelus buah pelir yang mengantung itu. Lisa menyerahkan tubuh putih mulusnya kepada bang Said yang hitam dan jelek itu.

Nampak Lisa mengerang ketika payudaranya diemut dan dihisap penuh nafsu oleh Said, apalagi ketika jari Said menerobos lubang vagina Lisa.

“Oooouuuggghhh ennakk bang!” desahnya sambil meremas kepala pria itu

Bang Said terus mempermainkan lidahnya di atas perut Lisa yang rata, mulus dan kencang itu. Hal itu membuat Lisa tambah terangsang hingga akhirnya pasrah pada Said yang mampu memberikan kenikmatan ragawi itu.

“Bang, entot Lisa…..masukin kontolnya ke memek Lisa” tanpa malu lagi Lisa meminta supaya Said memasukkan penisnya ke liang senggamanya.

Dengan penuh nafsu, Lisa membentangkan pahanya, sehingga Said dapat melihat vaginanya yang merah merekah dan sudah becek itu.

“Iya nih, abang juga sudah ngebet pengen ngentot sama non Lisa. Abang masukin yah” sambil berkata demikian, Said memegang penisnya yang besar dan diarahkan ke liang vagina itu.

Perlahan-lahan dimasukkannya penis yang besar itu membelah vagina sempit milik Lisa dan didorongnya kuat-kual.

“Ooouuugh bang…ennaaakkk ssekallii..ehhssss..”

Mata Lisa yang sipit mendadak mendelik, merasakan nikmatnya sodokan penis Said masuk sepenuhnya ke dalam liang senggamanya.

“Non Lisa, memeknya ennakk bangeett. Seemmppiitt!!.”

Said merasakan penisnya bagai diremas-remas dinding vagina Lisa yang sempit dan lembut itu. Sedangkan Lisa merasakan, lubang senggamanya penuh dijejali oleh penis yang besar itu. Setelah mendiamkan barang beberapa saat, Said mulai memaju mundurkan penisnya di dalam vagina Lisa. Ditarik dan ditekannya penis itu menerobos liang vagina Lisa, membuat gadis itu tambah kencang mengerang dan mendesah penuh nikmat.

“Aagghhh…uuggssshhh…oooghhh” terdengar erangan Lisa saat Bang Said mengenjot dengan penuh nafsu.

Sambil mengenjotnya kuat-kuat, Said juga meremas kedua payudara montok dan memilin kedua putingnya itu. Lisa sangat menikmati persetubuhan interacial itu, meskipun dengan lelaki jelek, hitam dan dari kalangan tukang. Ia sangat mendambakan penis besar dan panjang yang bisa membawanya terbang dalam kenikmatan. Setiap kali Said menekan pantatnya ke bawah, Lisa menyambutnya dengan menaikkan pantatnya dan mengoyangkannya. Ketika Lisa memutar pantatnya, Said merintih merasakan nikmat yang luar biasa.

“Ennaakkksss nonn…eehhhgg.” akhirnya yang kini terdengar di kamar Lisa adalah desahan nikmat diikuti erangan yang begitu mesra karena persetubuhan itu.

Hampir sekitar 30 menit, vagina Lisa digenjot dengan buasnya oleh penis Said yang perkasa. Sudah 2x pula, Lisa mengalami orgasmenya. Setelah sekian lama mengenjot vagina itu, kini Said yang akan mengalami orgasme. Dan akhirnya,

“Ouugghhh…saya keluar noonnn. Egghh.”

Crooott…ccrroott. Said melepaskan spermanya yang kental dan banyak itu di dalam rahim Lisa sambil membenamkan penisnya dalam-dalam di rongga vaginanya.

“Eegghhh Liisssaa..kkee..llluuaarr laagii ehhkkkssss.” tak lama kemudian Lisa mengangkat pantatnya menyambut sodokan penis Said, dan untuk ketiga kalinya Lisa mencapai klimaksnya. Lisa dan bang Said tampak lemas, setelah mereka melepas kenikmatan satu sama lain. Tubuh Said masih menindih tubuh Lisa, dan penisnya masih menancap di dalam vagina Lisa. Beberapa menit kemudian, Lisa bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Said pun menyusul Lisa ke kamar mandi itu. Awalnya mereka membersihkan tubuh masing-masing, lalu saling raba dan remas tubuh pasangannya. Dan akhirnya, di kamar mandi itu kembali mereka bergumul penuh nafsu. Said kembali menggenjot Lisa dengan berbagai macam gaya, kadang doggy-style, WOT, MOT sampai mereka benar-benar puas. Lisa pasrah saja diperlakukan seperti itu, karena dia pun merasakan nikmat yang luar biasa dari Said. Sekitar jam 11an siang, Lisa dengan mengenakan rok mini dan kaos pendek tanpa lengan, meninggalkan rumahnya untuk pergi ke sekolah dan ke rumah Hans. Lisa sudah janjian bertemu dengan seorang temannya, Cathy, di sekolah untuk mengembalikan baju yang ditawarkan oleh Cathy. Di sekolah itu, Cathy dikenal sebagai murid yang memiliki bakat dari orang tuanya yang adalah pedagang. Cathy, meskipun anak orang berada, tidak mau mengandalkan orang tuanya. Untuk itu, dia belajar mencari uang dengan berjualan baju dan menawarkannya kepada teman-temannya. Untungnya, baju yang ditawarkan Cathy memang bagus kualitasnya dan modis, sehingga banyak teman-teman yang menyukainya. Kebetulan, baju yang di ambil Lisa agak sempit di sekitar dadanya dan ia ingin mengganti dengan ukuran yang lebih besar. Sesampainya di sekolah, Lisa melihat ada 3 mobil temannya yang diparkir di luar gedung sekolah. Lisa mengenali itu adalah mobil Shelly, Tasya dan Erni. Lisa berpikir pastilah anak-anak ekskul cheerleader itu sedang latihan, mereka memang sering kumpul untuk latihan kalau liburan pendek seperti hari ini. Lisa kemudian memarkir mobilnya agak ujung, di tempat yang kosong, lalu turun dari mobilnya. Ia berpikir, kenapa sepi sekali keadaan di luar sekolahnya. Pak Amir yang biasanya jadi tukang parkir tidak ada di tempat. Dia pun melihat beberapa gerobak makanan yang tanpa penjualnya. Ada 3 gerobak makanan yang kelihatannya ditinggal oleh penjualnya. Hanya ada seorang bapak tua penjual cendol yang tampaknya sedang menjagai gerobak-gerobak kosong dekatnya.

“Permisi pak. Sepi amat Pak? Pada kemana nih penjualnya?” Lisa bertanya kepada bapak tua penjual cendol.

“Iya nih neng, lagi pada ke dalam, katanya diminta bantuannya sebetar. Saya diminta tungguin sebentar. Tapi lumayan juga, nih saya dikasih uang seratus ribu buat jagain dagangan ini.”

Lisa kemudian bertanya: “Lha itu ada mobil teman saya. Kemana yah mereka?”

“Iya neng, itu tadi cewek-cewek itu yang manggil mereka. Katanya mau ngomongin hal penting di dalam”

“Iya deh kalo gitu saya masuk dulu. Oh iya tolong cendolnya yah pak, 5 bungkus aja deh. Nanti saya ambil. Nih uangnya pak.” Lisa menyodorkan uang sebesar 30ribu rupiah untuk membayar cendol itu.

Setelahnya Lisa masuk ke sekolah itu. Ia mengerti, karena ini hari libur pasti gedung sekolah dikunci oleh satpam. Tetapi Lisa tidak menjumpai satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang sekolah itu. Lisa pun paham kalau sedang libur begini, hanya ada satu ruangan dari bagian sekolah ini yang dibuka. Ruangan itu menjadi tempat istirahat para satpam dan biasanya digunakan juga untuk tempat memasak air, membuat kopi / teh  atau merebuh mie instan. Luas ruangan itu sekitar 5x6m dan di dalamnya ada kamar mandi dan wc. Ketika Lisa sampai di depan ruangan yang agak tua itu, ia merasa agak aneh karena telinganya menangkap ada sesuatu yang aneh dari sana. Lisa berpikir, kenapa di dalam ruangan itu ada banyak suara orang yang mendesah dan mengerang. Ia berniat untuk mengintip lewat jendela samping, apa yang terjadi di dalam. Perlahan-lahan Lisa mendekatkan wajahnya ke jendela yang terbuka itu dan melihat aktivitas yang sedang berlangsung di dalam ruangan itu. Dan…astaga, Lisa sampai menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan karena kaget. Di dalam sana ia melihat Shelly, Tasya, Erni dan dua temannya lagi Verni dan Mira sudah dalam keadaan telanjang ataupun setengah telanjang sedang disetubuhi oleh orang-orang kasar di sekitar sekolah ini. Shelly sedang digenjot oleh bp Amir, yang usianya sekitar 53 tahun, yang adalah tukang parkir di sekolah ini. Pada tubuhnya hanya tersisa kaos ketat cheerleader yang sudah terangkat sehingga payudaranya tersingkap, ia berpegangan pada wastafel dalam posisi berdiri sementara pria setengah baya itu menggenjotnya dari belakang sambil menggerayangi tubuhnya. Sementara dekatnya, Tasya yang bertubuh mungil, dalam keadaan nungging sedang digenjot oleh seorang anak muda yang usianya sekitar 23 th, yang berkulit hitam dan dekil, yang biasanya bekerja sebagai pedagang roti keliling. Di atas sebuah bangku, Erni yang berdada montok itu sedang berada di atas pangkuan Pak Kadir, berusia 48 th, penjual ketoprak, dalam posisi berhadapan. Tubuh Erni terlihat naik turun di atas pangkuan pria itu yang asyik mengenyoti dadanya. Verni, yang blasteran Chinese-Belanda itu, sedang terbaring di lantai dan disetubuhi dengan begitu buas oleh bang Ijul yang berusia sekitar 34 tahun, yang adalah tukang rujak serut. Pria itu menaikkan kedua paha Verni ke bahunya sambil meremasi payudaranya. Dan terakhir Mira, anak dari seorang konglomerat, sedang duduk di sebuah bangku dengan paha terbuka dan vaginanya dijilati oleh Pak Sanot, berusia sekitar 46 tahun yang bekerja menjadi satpam di sekolah mereka. Sementara di sampingnya berdirilah Pak Amien, petugas kebersihan sekolah berumur 65 tahun, sedang dioral penisnya oleh Mira yang tampak sangat menikmatinya. Tubuh kelima cheerleader yang begitu mulus dan indah itu terus digenjot dengan begitu buas oleh keenam lelaki yang kasar itu. Erangan dari dalam ruangan itu menggambarkan betapa mereka dikuasai oleh nafsu birahi yang begitu hebat. Lisa terperangah kagum menyaksikan pemandangan pesta seks seliar itu. Menyaksikan proses persetubuhan itu, lama kelamaan ia pun diliputi nafsu birahi. Perlahan-lahan Lisa menggesek-gesekkan telapak tangannya ke arah vaginanya yang masih tertutup celana dalam dan jarinya menekan ke dalam liang vaginanya. Lisa menikmati sekali onaninya sambil menyaksikan pesta birahi di dalam ruangan itu.

Skandal di Rumah Lisa PART 1

Pagi itu sekitar jam 9, Lisa sedang santai di rumahnya di salah satu perumahan elit di kawasan Cibubur. Belum tau apa yang akan ia kerjakan pagi ini. Mau keluar, rasanya malas. Mau ketempat kos Mamat juga percuma, karena dia sedang banyak tugas mengantar ayam goreng. Nanti malam sudah janjian dugem dengan Hans, pacarnya sambil nonton final piala dunia antara Spanyol dan Belanda di sebuah caffe di daerah Senayan. Sejak Lisa bersetubuh dengan Mamat di rumah ci Lily (juga dengan Otong, pembantu di rumah ci Lily), gairah birahi Lisa sering menggila. Karenanya, Lisa sering janjian ketemu dengan Mamat, pemuda kampung itu untuk bersama melepaskan syahwat entah di tempat kos Mamat, di losmen atau hotel. Seminggu bisa 3x mereka mereguk nafsu birahi, dan rupanya Lisa sangat menikmati persetubuhannya dengan Mamat karena Mamat begitu perkasa bila sudah di atas ranjang dan mampu membuatnya menggelinjang dan merintih penuh nikmat. Lisa begitu puas bila bersetubuh dengan Mamat dibandingkan dengan Hans. Sedang asyik-asyiknya melamun di teras kamarnya yang menghadap ke taman, rumahnya kedatangan dengan seorang tukang yang sedang membereskan saluran air di rumahnya. Tukang itu disuruh oleh papanya untuk memperbaiki seluruh saluran air di rumah mewah itu, karena dirasa air yang keluar dari setiap kran air begitu kecil. Tukang itu usianya sekitar 35an, badannya kecil, kepalanya botak, tetapi kelihatan sekali dia begitu kuat.

“Permisi non, saya bang Said mau ngecek kran air di kamar mandi non. Tadi tuan suruh saya ngecek semua kran dan saluran air.”

“Boleh bang, silahkan. Tapi saya mau mandi dulu yah. Bang Said cek yang di taman dulu aja.” Lisa mempersilakannya masuk

“Iya non, beres. Bang Said beresin yang di taman ini dulu yah.” Said, si tukang yang disuruh oleh papanya Lisa, terus memperhatikan paha Lisa yang mulus dan putih itu.

Apalagi Said bisa menatap payudara Lisa yang masih dibungkus oleh kaos tipis berwarna putih, yang berguncang-guncang. Memang pagi itu, Lisa masih mengenakan celana tidurnya yang begitu pendek seperti hotpants dan kaos putih dan agak transparan tanpa lengan yang mengantung di atas pusernya. Lisa memang tidak pernah memakai bh dan cd bila tidur dan hanya mengenakan celana hotpants yang amat pendek dan kaos yang enak dipakai. Tentu saja mata Said yang liar itu menatap sebagian paha yang indah dan payudara di balik kaosnya yang menerawang sexy itu. Lisa sebenarnya menangkap tatapan liar mata itu pada bagian tubuhnya, tetapi ia cuek saja. Ia rupanya senang bila ada orang yang mengagumi keindahan tubuhnya yang masih muda itu. Pesta seks tempo hari di rumah kakak perempuannya ternyata sudah mulai menjerumuskannya menjadi gadis remaja yang liar.

Sengaja Lisa membuka pintu kamar itu, sehingga Said bisa melihat isi bagian dalam dari kamar Lisa. Saat sedang merendam tubuhnya di bathtub, muncul ide nakal darinya. Apalagi ketika Lisa sedang menggosok payudara dan vaginanya, muncul nafsu liar dalam dirinya yang menuntut pelampiasan. Karena pagi itu rumah sudah sepi, akhirnya Lisa memutuskan untuk menggoda bang Said. Lisa mengambil handuk yang pendek dan tipis dan melilitkannya pada tubuhnya yang putih mulus bagaikan pualam itu. Handuk itu tidak mampu menutupi keindahan tubuhnya, sebagian buah pantatnya terpampang dengan jelas, sedangkan bagian atasnya hanya menutupi setengah payudaranya. Bahkan terlihat samar-samar aerola payudara Lisa yang berwarna merah muda.

“Bang Said, nih kran airnya dicek!” panggilnya

Tak lama kemudian, bang Said masuk ke dalam kamar Lisa yang terbuka itu. Betapa kaget pria itu melihat pemandangan indah tubuh Lisa yang dibungkus handuk yang masih memperlihatkan paha yang terbuka dan belahan payudara dengan menantang itu. Mengesampingkan rasa canggungnya, Lisa mempersilahkan bang Said masuk ke dalam kamar mandi.

“Tuh krannya di situ, coba di cek, bang” kata Lisa sambil membungkuk dan mengutak-atik kran air itu.

Tindakan itu membuat handuk yang menutupi pantatnya terangkat. Kontan mata bang Said melotot mau keluar menyaksikan pemandangan yang begitu indah saat Lisa membungkuk. Said bisa melihat gumpalan pantat Lisa begitu putih, mulus dan membulat indah terpampang bebas, bahkan ketika Lisa merenggangkan pahanya, Said bisa melihat dengan jelas bulu kemaluan Lisa yang lebat dan belahan vaginanya. Lisa memang sengaja melakukan hal itu untuk menaikkan tensi birahi Said. Apalagi Said sudah lama tidak bersetubuh dengan istrinya di kampung, yang kini sedang hamil 6 bulan. Ketika disuguhkan pemandangan seperti itu, ia pun begitu nafsu dengan Lisa, gadis cantik berusia 18 tahun yang masih segar, putih, bening dan anak orang kaya. Di sisi lain, Lisa juga mendambakan sodokan dan kocokan penis besar di dalam vaginanya. Untuk lebih menggoda Said yang kelihatan sudah diliputi birahi, Lisa mengucapkan kalimat yang nakal

“Bang Said pasti nganceng nih, lihat Lisa seperti ini. Kepengen yah bang?” dengan senyum nakal, Lisa menggoda Said yang berbadan gelap namun kekar itu.

“Ah…nggak non Lisa, mana abang berani? Bisa dilaporin ke polisi. Hehehe.” Jawab Said gugup

Untuk membuat Said lebih berani lagi perlahan-lahan Lisa bertanya dan melakukan hal yang sangat berani

“Kepengen nggak bang? Gimana kalo Lisa begini…”

Betapa terkejutnya Said pada saat itu, gadis cantik dan sexy itu lalu dengan perlahan membuka handuk itu dan membentangkannya lebar-lebar, sehingga terlihatlah apa yang ada di balik handuk itu. Dengan senyum manja dan menggoda, Lisa melepas handuk itu di hadapan Said. Kini Lisa sudah telanjang bulat, bugil polos di hadapan bang Said.

“Wah, non Lisa, badannya putih banget, montok sekali…mulus dan masih kencang.”

Cerita Populer